BERTUAHPOS.COM — Laporan terbaru tentang rasisme muslim di Jerman mengungkap fakta yang mengkhawatirkan.
Coalition Against Islamophobia and Anti-Muslim Hostility (CLAIM) mencatat sebanyak 4.096 insiden anti-Muslim terjadi di seluruh Jerman pada tahun 2025, meningkat lebih dari seribu kasus dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 3.080 insiden.
Ketua nasional Asosiasi Keluarga dan Kemitraan Binasional sekaligus anggota Inisiatif 19 Februari Hanau Said Etris Hashemi menyuarakan keprihatinannya atas angka tersebut.
“Jumlah ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka ada wajah, di balik setiap insiden ada cerita,” katanya dalam peluncuran laporan di Berlin, dilansir Bertuahpos dari Deutsche Welle (DW), Senin, 29 Juni 2026.
Hashemi memiliki alasan personal yang kuat untuk terlibat dalam advokasi ini. Pada 19 Februari 2020, adik laki-lakinya menjadi salah satu dari sembilan korban tewas dalam serangan ekstremis sayap kanan di Hanau, dekat Frankfurt.
Pembunuhan di Hanau, menurutnya, menunjukkan arah mengerikan dari ujaran kebencian. “Ke mana arah pemisahan, dehumanisasi, dan stereotip rasis bisa berujung,” ujar Hashemi.
Laporan setebal 90 halaman itu merinci lebih dari 60 persen insiden merupakan serangan verbal. Tercatat 2.379 kasus serangan verbal, 840 kasus diskriminasi, dan 680 kasus perilaku merugikan lainnya termasuk penyerangan fisik dan perusakan properti.
CLAIM juga mendokumentasikan dua kasus pembunuhan, 214 kasus penganiayaan, empat kasus penyerangan berat atau percobaan pembunuhan, serta lima kasus pembakaran. Serangan terhadap masjid mencapai 61 kasus dari total 64 serangan terhadap institusi keagamaan.
Direktur Eksekutif CLAIM, Rima Hanano, memperingatkan dampak serius dari meningkatnya rasisme muslim di Jerman. “Pengalaman rasisme memperkuat perasaan tidak diterima. Kepercayaan terhadap politik semakin hilang dan menangani kasus ini menyentuh inti dari demokrasi kita,” tegasnya.
CLAIM menyusun penilaian ini dari laporan 38 pusat konseling di 15 negara bagian Jerman, data kejahatan bermotif politik, laporan media, serta laporan langsung dari pihak terdampak. Perspektif korban menjadi inti dari proses dokumentasi ini.
Hashemi kini rutin mengunjungi sekolah-sekolah untuk berdiskusi dengan para siswa tentang pengalaman mereka. “Rasisme anti-Muslim di Jerman bukan hal yang jarang terjadi, tetapi kenyataan bagi banyak orang,” katanya.
Meski demikian, ia menyimpan harapan besar pada generasi muda. “Saya sendiri punya harapan sangat besar pada generasi baru. Mereka tumbuh bersama dari berbagai latar belakang berbeda tapi berbagi tujuan yang sama. Itulah mengapa saya yakin generasi berikutnya mungkin bisa berbuat lebih baik dari kita,” pungkasnya.









