BERTUAHPOS – Pengelolaan data digital manuskrip kuno nusantara, saat ini dihadapkan dengan berbagai tantangan, mulai dari keberlanjutan repository, dukungan infrastruktur, hingga keterbatasan sumber daya manusia (SDM).
Hal ini diungkapkan oleh Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agus Iswanto. Tantangan tersebut ditemukan berdasarkan hasil risetnya terkait tata kelola data digital naskah nusantara.
Agus menjelaskan, banyak repository digital manuskrip di Indonesia tidak berkelanjutan, tidak terstandar, dan belum terintegrasi. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya dukungan infrastruktur, ketersediaan SDM yang terbatas, serta standar data dan metadata yang beragam.
Dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara (SIPN) XX dan Munas VIII Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) di Jakarta, pada 16 Oktober 2025 lalu, dia menekankan pentingnya membangun tata kelola data digital yang disepakati bersama oleh seluruh pemangku kepentingan manuskrip, agar data tersebut memenuhi prinsip FAIR — Findable, Accessible, Interoperable, dan Reusable.
“BRIN sebagai lembaga riset memiliki peran penting untuk memberikan saran dan arah pengelolaan data digital manuskrip Indonesia agar lebih mudah diakses dan berkelanjutan,” tambahnya.
Sementara itu, peneliti BRIN lainnya, Sarwo F. Wibowo, menilai bahwa kajian terhadap manuskrip harus dilakukan secara komprehensif, mencakup konteks sosiokultural, elemen paratekstual, materialitas, hingga proses sirkulasi dan transmisi naskah.
Adapun Khairul Fuad, juga dari BRIN, memaparkan hasil penelitiannya mengenai manuskrip lontar di Lombok yang mengandung nilai-nilai filosofi dan etika dalam kehidupan masyarakat setempat. Dia menilai manuskrip tersebut menjadi bukti kuat keberlanjutan tradisi literasi lokal.***





































