BERTUAHPOS — Kabupaten Jombang didorong menjadi pusat industri tahu ramah lingkungan melalui program Community Development Kampung Pangan BERSINAR (Berwawasan Lingkungan, Higienis, dan Tenar).
Program ini dijalankan lewat CSR PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) (Subholding Gas PT Pertamina Persero) bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Pemkab Jombang.
Inisiatif Kampung Pangan BERSINAR lahir dari masalah limbah pabrik tahu yang sudah menjadi isu lingkungan serius selama bertahun-tahun.
Tercatat ada 88 industri tahu di Jombang yang belum memiliki sistem pengolahan limbah, sehingga mencemari air sungai, merusak lahan pertanian, dan membahayakan kesehatan warga.
Melalui program bertajuk “Tangguh Jombang”, pemerintah bersama PGN membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal. Fasilitas ini menampung limbah dari 88 pabrik tahu rumahan di Kecamatan Jogoroto.
Setiap hari, industri tahu membutuhkan 84 ton kedelai dan menghasilkan sekitar 1,26 juta liter limbah cair dengan kadar BOD 4.200 kg per hari. Setelah diolah di IPAL, kadar BOD berhasil ditekan hingga 960 kg per hari, sehingga lebih ramah lingkungan.
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLH, Tulus Laksono, mengatakan sentra tahu Jombang dipilih karena laporan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menunjukkan pencemaran Sungai Brantas yang harus segera diatasi.
“Langkah ini juga penting untuk mengurangi konflik horizontal serta menjaga konservasi air tanah,” ujarnya lewat keterangan tertulis, Kamis, 18 September 2025.
Bupati Jombang, Warsubi, menyambut baik pembangunan IPAL Komunal. Ia menegaskan pabrik tahu Jogoroto yang menyerap ribuan tenaga kerja dengan penghasilan di atas UMR harus dikelola dengan bijak agar tidak merusak lingkungan. “Kami berterima kasih atas dukungan penuh KLH, DLH, dan Pertamina Grup melalui PGN,” katanya.
Sementara itu, Direktur SDM dan Penunjang Bisnis PGN, Rachmat Hutama, menegaskan kolaborasi ini bertujuan memperkuat sisi lingkungan, sosial, dan ekonomi.
“Industri tahu adalah produk unggulan Jombang. Dengan pengelolaan berkelanjutan, tahu khas Jombang akan memiliki nilai tambah lebih tinggi,” jelasnya.
Selain IPAL, program lingkungan juga mencakup kolam fitoremediasi untuk irigasi pertanian, pengolahan eceng gondok menjadi pupuk, peralihan energi dari kayu bakar ke gas bumi, serta pengumpulan minyak jelantah.
Pada aspek sosial bertema “Pesona Jombang”, program difokuskan pada pembentukan koperasi, pemberdayaan perempuan, serta peningkatan kesadaran akan sanitasi dan keselamatan kerja.
Dari sisi ekonomi bertajuk “Tangkas Jombang”, kegiatan meliputi pengembangan UMKM, pelatihan branding dan kemasan, fasilitasi sertifikat halal, izin PIRT, hingga pelatihan literasi finansial dan pusat literasi lingkungan.
Peletakan batu pertama IPAL Komunal pada Selasa, 16 September 2025, menandai dimulainya program Kampung Pangan BERSINAR. Program ini menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk menilai dampak lingkungan secara menyeluruh.
“Kolaborasi ini menjadi langkah nyata menjaga kelestarian lingkungan, mendorong kemandirian ekonomi, dan memperkuat hubungan harmonis antara PGN, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat,” katanya.***









