• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Oktober 28, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Posisi Utang Negara Akhir Semester I Tahun 2022 Rp7,1 T Lebih, Naik 1,69%

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
3 Agustus 2022
Anggaran Dinas Kesehatan, uang beredar februari 2022, penanganan stunting

Ilustrasi Rupiah (Foto: Net)

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Posisi utang negara di akhir semester I tahun 2022 tercatat sebesar Rp7.123,62 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 1,69%, jika dibandingkan dengan posisi utang Indonesia pada akhir Mei 2022 sebesar Rp7.002,24 triliun.

Data ini berdasarkan catatan dari Kementerian Keuangan berdasarkan dokumen APBN KITA. Sementara itu, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga mengalami peningkatan sebesar 39,56%, dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 38,88%

“Rasio utang terhadap PDB dalam batas aman, wajar, serta terkendali diiringi dengan diversifikasi portofolio yang optimal,” tulis Kemenkeu dalam APBN KITA Edisi Juli 2022.

Secara rinci, utang pemerintah didominasi oleh instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang kontribusinya sebesar 88,46%. Hingga akhir Juni 2022, penerbitan SBN yang tercatat sebesar 6.301,88 triliun. Penerbitan ini juga terbagi menjadi SBN domestik dan SBN valuta asing (valas).

Dalam rilis tersebut, SBN Domestik tercatat sebanyak Rp4.992,52 triliun yang terbagi menjadi Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp4.092,03 triliun serta Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp900,48 triliun.

Sementara itu, SBN Valas yang tercatat adalah sebesar Rp1.309,36 triliun dengan rincian sebagai berikut, yaitu SUN sebesar Rp981,95 triliun dan SBSN senilai Rp327,40 triliun.

Kemenkeu juga memaparkan, utang pemerintah tersebut ada kontribusi 11,54% dari utang pinjaman pemerintah hingga akhir Juni 2022 yang sebesar Rp 821,74 triliun. Pinjaman ini dirincikan dalam dua kategori yakni pinjaman dalam negeri sebanyak Rp 14,74 triliun dan pinjaman luar negeri sebesar Rp806,31 triliun.

Untuk pinjaman luar negeri juga telah dijabarkan oleh Kemenkeu sebagai berikut yakni pinjaman bilateral sebesar Rp271,95 triliun, pinjaman multilateral sebesar Rp491,71 triliun, dan pinjaman commercial bank sebesar Rp42,66 triliun.

Sementara berdasarkan mata uang, utang pemerintah didominasi oleh mata uang domestik (Rupiah), yaitu 70,29%. Selain itu, saat ini kepemilikan oleh investor asing terus menurun sejak tahun 2019 yang mencapai 38,57%, hingga akhir tahun 2021 yang mencapai 19,05%, dan per 5 Juli 2022 mencapai 15,89%.

“Portofolio utang dijaga agar terus optimal, sehingga peningkatan utang pun telah diperhitungkan secara matang demi mendapatkan risiko dan biaya yang paling efisien,” tulis Kemenkeu.

Kemenkeu menyebut, Penambahan utang sebagian besar terjadi sejak tahun 2020 karena adanya badai Covid-19. Covid-19 menimbulkan krisis kesehatan, krisis sosial serta krisis kemanusiaan.

Untuk itu, melalui Pemerintah meluncurkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebagai bentuk tanggung jawab Pemerintah untuk masyarakatnya.

“Namun, APBN yang masih defisit, belum mampu untuk memenuhi kebutuhan untuk perlindungan masyarakat sehingga program PEN dilakukan melalui utang,” tulisnya.

Dalam usaha menyehatkan APBN, Pemerintah mengelola portofolio utang agar optimal, sehingga peningkatan utang pun telah diperhitungkan secara matang demi mendapatkan risiko dan biaya yang paling efisien.

Defisit anggaran dari segi jatuh tempo, komposisi utang Pemerintah dikelola dengan mempertimbangkan kemampuan bayar dan kapasitas fiskal. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata jatuh tempo (average time to maturity) sepanjang tahun 2022 ini masih terjaga di kisaran 8,7 tahun.***

Tags: Kemenkeukeuangan Negarautang negarautang semester I 2022
Share2Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Era Suku Bunga Rendah Berakhir, Jepang Hadapi Beban Utang Semakin Berat
Ekonomi

Era Suku Bunga Rendah Berakhir, Jepang Hadapi Beban Utang Semakin Berat

...

Read moreDetails
beban utang negara

Pemerintah Prabowo – Gibran Bakal Pikul Beban Berat dengan Utang Negara Jatuh Tempo hingga Rp800 Triliun

surat cinta sri mulyani, RAPBN 2023

Sri Mulyani: RAPBN 2023 didesain fleksibel untuk Redam Gejolak Ekonomi Global

cuci tangan pakai sabun

Negara-Negara yang Pernah Alami Kebangkrutan Akibat Utang

Kebijakan Larangan Mudik, utang negara

Utang Negara Rp7 Ribu Triliun, Rocky Gerung: Problemnya Ada di Mereka yang Jual Minuman Pinggir Jalan

skema kredit melawan rentenir, kebijakan restrukturisasi

OJK Catat Pasar Modal Didominasi Investor Milenial

Next Post
Realisasi Pajak Riau triwulan III 2022

DJP Riau Catat Pertumbuhan Penerimaan Pajak Hingga 55,7% per Juni 2022

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.