• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Oktober 7, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Militer Myanmar Diduga Telah Bunuh Puluhan Orang, Disiksa Sampai Mati

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
20 Desember 2021
112
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM — Serangkaian kasus dugaan pembunuhan dituduhkan kepada militer Myanmar. Ini adalah dugaan kasus pembunuhan massal terhadap warga sipil, bahkan beberapa diduga ada yang disiksa sampai mati.

Menurut laporan setidaknya ada 40 warga sipil yang telah dibunuh oleh militer Myanmar pada Juli 2021, berdasarkan hasil investigasi BBC, seperti dikutip dari detikcom, Senin, 20 Desember 2021.

Berdasarkan pengakuan saksi mata dan korban selamat, para tentara—-yang masih muda—-mengumpulkan penduduk desa dan memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Lalu para lelaki itu dibunuh.

Dalam sebuah rekaman video dan gambar dari insiden itu, terlihat bahwa sebagian besar dari merekalah yang dibunuh dilakukan penyiksaan terlebih dahulu, lalu dikubur dalam sebuah lubang yang dangkal.

Sejauh ini bahwa militer telah dihadapkan pada perlawanan yang datang dari warga sipil. Terutama sejak para militer Myanmar menguasai negara tersebut dalam sebuah kudeta yang dilakukan pada Februari 2021 lalu—-menggulingkan pemerintah yang dipilih secara demokratis yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.

Dalam laporan investigasi tersebut BBC mewawancarai 11 saksi di daerah bernama Kani, lalu informasi yang mereka peroleh dibandingkan dengan dengan rekaman video dan foto yang dikumpulkan oleh Myanmar Witness, sebuah LSM yang berbasis di Inggris yang menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia di negara tersebut.

Para saksi yang dilindungi identitasnya itu mengungkapkan bahwa orang-orang yang ditangkap oleh militer diikat dengan tali, dipukuli sebelum mereka dibunuh dan dikubur.

“Kami tidak sanggup melihat itu, kami menundukkan kepala, menangis,” kata seorang perempuan, yang saudara laki-lakinya, keponakannya dan saudara iparnya terbunuh.

“Kami memohon mereka untuk tidak melakukannya. Mereka tidak peduli. Mereka bertanya kepada para perempuan, ‘Apakah suami Anda termasuk di antara mereka? Jika iya, lakukan ritual terakhir Anda’.”

Seorang pria yang berhasil melarikan diri dari pembunuhan mengatakan bahwa tentara melakukan penyiksaan yang mengerikan pada laki-laki selama berjam-jam sebelum mereka meninggal. “Mereka diikat, dipukuli dengan batu dan popor senapan dan disiksa sepanjang hari,” kata korban selamat.

“Beberapa tentara tampak muda, mungkin 17 atau 18 tahun, tetapi beberapa benar-benar tua. Ada juga seorang perempuan bersama mereka.”

Di Desa Zee Bin Dwin terdekat, pada akhir Juli, 12 mayat yang dimutilasi ditemukan terkubur di kuburan massal yang dangkal, termasuk tubuh kecil, mungkin seorang anak, dan tubuh orang cacat. Beberapa dimutilasi. Jenazah seorang pria berusia sekitar enam puluhan ditemukan terikat di pohon plum di dekatnya.

Rekaman mayatnya, diteliti oleh BBC, menunjukkan tanda-tanda penyiksaan yang jelas. Keluarganya mengatakan bahwa putra dan cucunya telah melarikan diri ketika militer memasuki desa, tetapi orang tua itu memilih tetap tinggal, percaya bahwa usianya akan melindunginya dari bahaya.

Pembunuhan itu tampaknya merupakan hukuman kolektif atas serangan terhadap militer oleh kelompok-kelompok milisi sipil di daerah itu, yang menuntut agar demokrasi dipulihkan.

Pertempuran antara militer dan cabang-cabang lokal dari Pasukan Pertahanan Rakyat (People’s Defence Force) – nama kolektif untuk kelompok-kelompok milisi sipil – telah meningkat di daerah itu pada bulan-bulan sebelum pembunuhan massal, termasuk bentrokan di dekat Zee Bin Dwin. (bpc2)

Tags: BBCmiliter myanmarpembunuhan massalpenyiksaan
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

milisi bersenjata myanmar
Berita

Junta Lancarkan Serangan Udara ke Pemberontak di Myanmar Barat

...

Read moreDetails

Junta Militer Myanmar Bantah Terlibat Upaya Pembunuhan Dubes di PBB

milisi bersenjata myanmar

Pasukan Milisi Bentrok dengan Militer Myanmar, ‘Perang’ Masih Berlanjut

Tentara Thailand Bantah Beri Bantuan Beras untuk Militer Myanmar

Video: Minggu Kelam Myanmar

BBC World News dilarang Siaran

China Larang BBC World News Siaran

Next Post

Kemenag Keluarkan Data Indeks Kerukunan Umat Beragama, Berikut Ini Gambarannya

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.