Para Menteri Ekonomi Kumpul di Riau Bahas Agrobisnis dan Pangan

Senin, 16 September 2013 21:30
BERTUAHPOS, PEKANBARU – Sebanyak 5 menteri ekonomi dipimpin Menko Perekonomian Hatta Rajasa kompak hadir di acara Rakernas Kadin bidang Agrobisnis- Pangan dan Lingkungan Hidup Perubahan Iklim dan Pembangunan di Pekanbaru, Riau.
 
Lima Menteri selain Hatta, antaralain Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Menteri Pertanian Suswono, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Menteri Perindustrian MS Hidayat. Juga dihadiri oleh Ketua Umum Kadin Suryo B. Sulisto.
 
Rakornas itu membahas beberapa isu penting seperti peningkatan produksi pangan, pola konsumsi pangan, produksi pangan ramah lingkungan, dan inovasi pembiayaan sektor agrobinis.
 
“Peningkatan produksi membawa kesejahteraan petani, tetapi strategi keberlanjutan harus dimulai dari perubahan paradigma konsumsi pangan oleh seluruh lapisan konsumen,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Shinta W. Kamdani dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/9/2013)
 
Menurutnya pekerjaan rumah di bidang produktivitas petani dan seluruh rantai nilai produksi pangan, bagaimana mendorong inovasi bagi ketahanan pangan nasional. 
 
“Penyelesaian masalah kerusakan lahan harus komprehensif, sehingga perlu pendekatan-pendekatan yang inovatif untuk tata kelola lahan yang berdasarkan azas keberlanjutan, dan bukan hanya prinsip lingkungan semata dan mengabaikan potensi pertumbuhannya,” katanya.
 
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis dan Pangan Franky O. Widjaja mengatakan sejumlah komoditas strategis memerlukan inovasi pembiayaan untuk merealisasikan produktivitas ideal seperti yang diharapkan.
 
 
Seperti kisah sukses komoditas kelapa sawit dengan program Inti-Plasma telah terbukti menjadikan Indonesia unggul sebagai produsen kelapa sawit nomor satu di dunia. 
 
“Terobosan inovatif pembiayaan perlu dikembangkan untuk komoditas lainnya,” ungkap Franky.
 
Jalur keuangan pertanian, perlu dievaluasi agar menjadi lebih baik dan terarah. Skema-skema baru yang cocok bisa diterapkan misalnya dengan resi gudang atau inovasi pembiayaan melalui lembaga non bank yang khusus ke pertanian. 
 
“Kedepan perlu juga adanya sinergi antara kebijakan makro dengan praktik-praktik usaha mikro, demikian halnya dengan pola Inti-Plasma,” jelas Franky.
 
Kadin saat ini tengah merancang paket inovasi pembiayaan agribisnis untuk petani sawit, sebagai prototipe untuk dikembangkan lebih lanjut di berbagai komoditas dengan lingkup yang lebih besar, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan mengacu pada program 10 Years Sustainable Consumption and Production (SCP). 
 
Bagi Kadin, Indonesia tidak hanya sebagai salah satu produsen terbesar dan eksportir sumber daya alam, tetapi juga sebagai konsumen terbesar dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia. 
 
“Indonesia adalah rumah bagi pemodal, produsen, pengolah dan pembeli dalam rantai ekonomi, tak hanya domestik tetapi juga memasok pasar luar negeri. Oleh karenanya, isu lingkungan dan keberlanjutan harus diperhatikan dengan cermat,” kata Shinta.
 
 
 
(detik.com)