• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Oktober 7, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

ICAFES Universitas Riau: Kolaborasi Akademisi dan Industri Hadapi Perubahan Iklim

Muhammad Habibie by Muhammad Habibie
30 Agustus 2025
119
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS — Fakultas Pertanian Universitas Riau menggelar The 2nd International Conference on Agriculture, Food and Environmental Science (ICAFES 2025) di Integrated Class Room, Sabtu 30 Agustus 2025. Konferensi ini mengangkat tema “Mendorong Pertanian Berkelanjutan untuk Menjamin Ketahanan Pangan di Tengah Perubahan Iklim.”

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Riau, Dr. Ahmad Rifai, S.P, M.P, dalam pidato pembukaannya menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta dan tamu undangan. Ia menegaskan bahwa tema tahun ini sangat relevan dengan kondisi global saat ini, di mana perubahan iklim, degradasi lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan meningkatnya permintaan pangan menjadi tantangan serius bagi seluruh bangsa.

“Ketahanan pangan tidak lagi menjadi urusan satu negara semata, tetapi merupakan kepedulian bersama yang membutuhkan kerja sama, inovasi, dan tanggung jawab kolektif,” ujar Ahmad Rifai.

Sebagai tuan rumah, Fakultas Pertanian Universitas Riau menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi pertanian, dengan mengintegrasikan pendekatan teknis, sosial-ekonomi, lingkungan, dan kebijakan. Ia menyebutkan konferensi kali ini mencakup tujuh ruang lingkup utama, mulai dari agronomi, teknologi pangan, kebijakan sosial-ekonomi, kehutanan, proteksi tanaman, ilmu tanah, hingga teknologi hijau.

ICAFES 2025 juga digelar bersamaan dengan Pertemuan Tahunan Dekan Pertanian BKS PTN Barat serta Workshop Teknis Instrumen Akreditasi LAM-PTIP. Menurut Ahmad Rifai, sinergi tiga agenda besar ini menunjukkan keseriusan perguruan tinggi dalam memperkuat kolaborasi akademik, pengembangan institusi, dan penjaminan mutu pendidikan tinggi pertanian.

“Kehadiran Bapak Jatmiko Krisna Santosa, Direktur Utama PalmCo, sebagai pembicara kunci mengingatkan kita akan pentingnya peran industri dalam mendorong pertanian berkelanjutan,” tambahnya.

Ahmad Rifai berharap konferensi ini bukan hanya menjadi forum akademik, tetapi juga platform strategis untuk memperkuat jejaring internasional, menghasilkan publikasi bereputasi, memberi solusi nyata atas tantangan pertanian, hingga menginspirasi kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Jatmiko Soroti Tantangan Iklim untuk Sawit

Direktur Utama PTPN IV (PalmCo), Jatmiko K Santosa, hadir sebagai Keynote Speaker dalam ICAFES 2025. Kehadirannya menjadi sorotan, mengingat PalmCo merupakan perusahaan sawit terbesar di dunia dengan perkebunan yang tersebar luas mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

 

Dalam penyampaiannya, Jatmiko menekankan bahwa perubahan iklim global adalah tantangan terbesar industri sawit saat ini. Cuaca ekstrem, hujan tidak menentu, dan kekeringan berkepanjangan terbukti menekan produktivitas tandan buah segar (TBS).

“Produktivitas kelapa sawit sangat erat kaitannya dengan kondisi cuaca. Ketidakpastian iklim membuat kita harus mencari strategi agar produksi tetap stabil,” ujarnya.

Replanting dan Bibit Unggul Jadi Kunci

PalmCo menyiapkan strategi melalui peremajaan sawit rakyat (PSR) dengan bibit unggul bersertifikat (high-yielding varieties). Sejak 2024, PalmCo telah menyalurkan 5,7 juta bibit unggul untuk 40 ribu hektare kebun rakyat, melibatkan lebih dari 20 ribu petani kecil.

Perusahaan juga memfasilitasi pencairan dana BPDPKS untuk peremajaan seluas 15 ribu hektare melalui kemitraan dengan koperasi (KUD). Menurut Jatmiko, rata-rata produktivitas petani kecil masih di kisaran 2–3 ton CPO per hektare per tahun, jauh di bawah perkebunan besar yang bisa mencapai 6 ton per hektare.

“PSR adalah kunci. Tanpa itu, kita akan kehilangan daya saing sekaligus melemahkan kontribusi sawit bagi ketahanan pangan dan energi,” tegasnya.

Sawit untuk Energi Hijau Nasional

PalmCo saat ini mengelola 618 ribu hektare perkebunan dari Sumatra hingga Sulawesi, menjadikannya salah satu pemain strategis dalam penyediaan bahan baku biodiesel nasional.

Pemerintah menargetkan penerapan B50 pada 2027, yang diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 7,2 juta ton CPO atau setara 2 juta hektare lahan baru. “Tantangannya bukan hanya soal ketersediaan lahan, tetapi juga potensi konflik sosial dan isu lingkungan. Maka, kuncinya ada di intensifikasi melalui replanting dan penggunaan bibit unggul,” jelas Jatmiko.

Selain biodiesel, PalmCo menyiapkan ekspansi ke energi hijau bernilai tambah, seperti pembangunan fasilitas Sustainable Aviation Fuel (SAF), 20 unit bioCNG, hingga pemanfaatan biomassa sawit untuk listrik.

“Industri sawit adalah green gold. Nilai tambahnya besar jika kita berani masuk ke circular economy, bukan sekadar mengekspor CPO mentah,” tambahnya.

Circular Economy dan ESG

Jatmiko juga menyoroti potensi ekonomi sirkular dalam industri kelapa sawit. Produk sampingan seperti tandan kosong (TKKS), limbah cair pabrik (POME), hingga cangkang sawit, bisa diolah menjadi biofuel, biogas, biochar, pupuk organik, hingga pakan ternak.

“Dengan pengelolaan yang tepat, limbah sawit bukan lagi masalah, tetapi peluang bisnis berkelanjutan,” ujarnya.

PalmCo memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Pada 2024, perusahaan mencatat skor 55/100 dalam Corporate Sustainability Assessment (CSA) S&P Global, menempatkannya di posisi kedua dunia untuk sektor perkebunan.

Digitalisasi Perkebunan

Untuk meningkatkan efisiensi, PalmCo mulai menerapkan digitalisasi perkebunan. Teknologi sensor IoT, pemetaan geospasial, hingga mekanisasi panen berbasis kendaraan listrik diterapkan untuk menekan biaya, mengurangi kehilangan hasil panen, serta menjaga kualitas CPO.

“Kolaborasi dengan petani kecil adalah fondasi. Kita tidak bisa maju sendiri, tapi harus bersama-sama. Produktivitas petani adalah fondasi industri sawit berkelanjutan,” kata Jatmiko.

Tekanan Global

Meski menjadi penyumbang sekitar 60% pasokan sawit global, Indonesia menghadapi berbagai tekanan internasional. Pertumbuhan produksi CPO nasional periode 2020–2024 hanya 1,04% per tahun, jauh tertinggal dari minyak nabati lain seperti rapeseed yang tumbuh 6,25%.

Selain itu, regulasi Uni Eropa terkait deforestasi (EUDR) juga berpotensi mengurangi akses ekspor sawit Indonesia.

“PalmCo memilih menjawab tantangan dengan memperkuat produktivitas, hilirisasi, dan kepatuhan pada standar keberlanjutan. Itu satu-satunya cara agar sawit tetap relevan dalam rantai pasok global,” ujar Jatmiko.

Sawit Penopang Ketahanan Nasional

Dengan berbagai strategi tersebut, PalmCo berupaya mencari jalan tengah antara menjaga daya saing ekspor dan memastikan ketersediaan domestik untuk energi hijau.

“Kolaborasi dengan petani, pemerintah, dan lembaga keuangan mutlak diperlukan. Tanpa itu, sawit bisa kehilangan momentum. Tapi dengan strategi tepat, sawit bisa jadi lokomotif ketahanan pangan, energi, dan sekaligus transisi hijau Indonesia,” pungkas Jatmiko.

Konferensi ICAFES yang dihadiri akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara ini mempertegas bahwa transformasi sawit berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah menjadi agenda nyata yang sedang dijalankan Indonesia.***

Tags: ICAFESpertanianPTPN IV
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Muhammad Habibie

Muhammad Habibie

Berita Terkait

Krisis Air Terparah, Sri Lanka Siapkan Rencana Olah Air Laut
Internasional

Krisis Air Terparah, Sri Lanka Siapkan Rencana Olah Air Laut

...

Read moreDetails
Kolaborasi antara mahasiswa agroteknologi dan teknik elektro UIN Suska Riau berhasil menciptakan smart farming berbasis internet of thing untuk apotek hidup di lokasi KKN mereka.

Mahasiswa UIN Suska Riau Berhasil Kembangkan Teknologi Smart Farming IoT untuk Apotek Hidup di Lokasi KKN

RPB Inisiasi Gerakan Tanam 100 Ribu Bibit Cabai di Agustus Ini

RPB Inisiasi Gerakan Tanam 100 Ribu Bibit Cabai di Agustus Ini

Padi Gamagora 7 Diklaim Jadi Solusi Ketahanan Pangan di Lahan Tadah Hujan

Padi Gamagora 7 Diklaim Jadi Solusi Ketahanan Pangan di Lahan Tadah Hujan

Tambah 18 Ribu Hektare Sawah, Riau Bidik Tekan Inflasi dan Stabilkan Harga Beras

Tambah 18 Ribu Hektare Sawah, Riau Bidik Tekan Inflasi dan Stabilkan Harga Beras

Produksi Jagung Nasional 2025 Melonjak hingga 16 Juta Ton Lebih

Produksi Jagung Nasional 2025 Melonjak hingga 16 Juta Ton Lebih, Daerah Ini Tetap Juaranya

Next Post

Massa Kepung Rumah Ahmad Sahroni, Protes Pernyataan ‘Tolol’ Soal Bubarkan DPR

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.