BERTUAHPOS – Produksi jagung nasional sepanjang tahun 2025 mencapai 16,11 juta ton. Angka ini merujuk pada hasil panen jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sepanjang Januari hingga Desember tahun lalu.
Berdasarkan data dari BPS yang dirilis awal Januari 2026, volume produksi tersebut mengalami kenaikan sebesar 0,97 juta ton atau setara 6,44% dibandingkan tahun 2024.
“Pertumbuhan ini sejalan dengan perluasan area panen di berbagai wilayah Indonesia,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, sebagaimana dilihat Bertuahpos, Senin, 23 Februari 2025.
Data BPS menunjukkan luas panen jagung sepanjang 2025 menyentuh angka 2,72 juta hektare, tumbuh sekitar 6,73% secara tahunan. Peningkatan luas lahan ini menjadi faktor utama yang mengkompensasi tantangan cuaca yang sempat membayangi para petani di pertengahan tahun.
Jawa Timur kembali mengukuhkan posisinya sebagai lumbung jagung nasional nomor satu dengan kontribusi mencapai 4,59 juta ton. Provinsi ini mendominasi hampir 30% dari total produksi nasional berkat optimalisasi lahan di daerah Tuban, Lamongan, hingga wilayah Madura.
Menyusul di posisi kedua, Jawa Tengah mencatatkan produksi sebesar 2,42 juta ton, disusul oleh Sumatera Utara dengan capaian 1,37 juta ton.
Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Selatan juga masuk dalam jajaran lima besar produsen utama dengan masing-masing memproduksi 1,21 juta ton dan 1,13 juta ton.
Kementerian Pertanian menyatakan bahwa keberhasilan kenaikan produksi tahun 2025 merupakan buah dari program Perluasan Areal Tanam (PAT) dan bantuan benih hibrida. Selain itu, distribusi pupuk bersubsidi yang lebih terkendali membantu petani menjaga produktivitas meski terjadi anomali iklim di beberapa titik.
Sumber data dari Laporan Kinerja Tanaman Pangan 2025 juga menyoroti penggunaan teknologi mekanisasi atau alat mesin pertanian (alsintan) yang semakin masif.
Penggunaan mesin pemanen (combine harvester) terbukti efektif menekan angka kehilangan hasil (losses) saat proses pascapanen di tingkat petani.
Secara analisis, tren kenaikan ini menunjukkan bahwa Indonesia semakin mendekati target swasembada jagung untuk kebutuhan industri pakan ternak.
Pertumbuhan produksi sebesar 6,44% memberikan ruang napas bagi stabilitas harga telur dan ayam di pasar domestik, mengingat jagung adalah komponen biaya utama untuk pakan ternak.
Namun, pemerintah tetap perlu mewaspadai fluktuasi harga di tingkat petani saat puncak panen raya agar insentif menanam tetap terjaga. Tantangan distribusi antar-pulau juga masih menjadi pekerjaan rumah agar pasokan dari wilayah timur seperti NTB dan Sulawesi dapat terserap maksimal oleh industri di pulau Jawa.***









