BERTUAHPOS — Pemerintah Provinsi Riau memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan, dengan menambah amunisi sebanyak 15 ton garam semai. Langkah ini menjadi upaya untuk memicu hujan buatan di wilayah yang rawan mengalami Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), terutama di area lahan gambut di pesisir Riau.
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, M Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan Jim Gafur, sebelumnya Riau telah menerima bantuan awal sebesar 8,5 ton garam dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). “Namun, kita baru saja kembali menerima bantuan tambahan sebanyak 15 ton,” ujar Jim Gafur di Pekanbaru, Senin, 23 Februari 2026.
Jim menyebut, tim OMC memfokuskan operasi di wilayah pesisir Riau yang mulai mengalami penurunan curah hujan menurut pantauan BMKG. Pada 22 Februari 2026, petugas telah melakukan penyemaian sebanyak 1 ton garam dalam satu sortie penerbangan di atas langit Kabupaten Siak.
Fokus di wilayah pesisir bukan tanpa alasan. Karakteristik lahan gambut yang kering sangat rentan terbakar dan sulit dipadamkan jika api sudah masuk ke dalam lapisan tanah. “Kami berharap dengan OMC ini akan mampu menjaga kelembapan gambut. Jikapun ada titik api, setidaknya tidak akan meluas,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dikeluarkan BPBD Provinsi Riau, karhutla telah melanda 11 kabupaten/kota di sejak awal tahun 2026. Total luas lahan yang terbakar mencapai 1.041,74 hektare, dengan rincian wilayah terparah berada di Kabupaten Pelalawan seluas 612,30 hektare dan Bengkalis 201,01 hektare.
Selain luas lahan, petugas juga mendeteksi adanya 1.849 hotspot (titik panas) dan 128 fire spot (titik api) di seluruh Riau. Namun, Jim memastikan bahwa tim gabungan di lapangan telah berhasil menangani sebagian besar kebakaran tersebut.
Meskipun hujan mulai turun merata di beberapa wilayah Riau dalam beberapa hari terakhir, pemerintah tidak ingin lengah. Operasi semai garam tetap berlanjut untuk memastikan cadangan air di lahan gambut tetap terjaga sebelum memasuki puncak musim kemarau. Keberhasilan operasi ini sangat bergantung pada keberadaan awan potensial di langit Riau.***









