BERTUAHPOS.COM — Bentuk Bumi perlahan mengalami perubahan akibat mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika, menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Geophysical Research: Solid Earth pada 9 September 2026. Bagian padat planet ini terdeteksi semakin membulat seiring pergeseran massa es dan air di permukaan.
Penelitian dilakukan Christoforos Kotsakis, profesor geodesi dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani. Ia menggunakan data Global Navigation Satellite System untuk mengamati perubahan permukaan Bumi dalam rentang 1997 hingga 2015.
Hasil pengamatan memperlihatkan bagian padat Bumi berubah bentuk dengan kecepatan yang meningkat. Pada periode 2011–2015, pengangkatan permukaan di wilayah kutub dan penyusutan tonjolan di khatulistiwa mencapai sekitar 1 milimeter per tahun.
Angka itu naik dibandingkan periode 1997–2000 yang tercatat sekitar 0,5 milimeter per tahun. Perubahan tersebut menunjukkan dampak mencairnya lapisan es terhadap bentuk fisik Bumi semakin terlihat melalui pengukuran satelit.
Secara alami, Bumi bukanlah bola sempurna. Rotasi planet menyebabkan bagian khatulistiwa sedikit menggembung, sedangkan wilayah kutub relatif lebih pipih, sehingga bentuknya dikenal sebagai oblate spheroid.
Pemanasan global memicu perubahan distribusi massa di permukaan Bumi. Mencairnya lapisan es dalam jumlah besar di Greenland dan Antarktika mengurangi tekanan yang selama ini membebani daratan di bawahnya.
Akibatnya, permukaan tanah di wilayah kutub perlahan terangkat kembali melalui proses yang dalam ilmu keBumian dikenal sebagai glacial isostatic adjustment. Proses itu berlangsung bertahap ketika lapisan es mencair dan daratan di bawahnya menyesuaikan diri.
Pada saat bersamaan, air hasil pencairan es berpindah menuju lautan dan menyebar ke berbagai wilayah. Perubahan distribusi massa tersebut turut memengaruhi bentuk permukaan Bumi, terutama di sekitar khatulistiwa.
Perubahan bentuk Bumi dalam skala milimeter per tahun memang tidak dapat diamati langsung oleh manusia. Namun, fenomena itu menjadi indikator penting untuk memahami dampak pemanasan global terhadap sistem planet secara menyeluruh.*









