BERTUAHPOS.COM — Bank Indonesia (BI) mencatat arus modal asing yang memanfaatkan insentif pengurangan biaya lindung nilai atau hedging telah mencapai sekitar US$7 miliar sejak kebijakan tersebut diberlakukan pada September 2026.
Insentif ini menjadi strategi BI untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa harus menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate, kata Gubernur BI Destry Damayanti.
Kebijakan ini lahir dari dilema yang dihadapi bank sentral antara menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sesuai mandat dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), BI juga dituntut menciptakan iklim ekonomi yang kondusif bagi sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.
Untuk menjawab dilema tersebut, BI membagi fokus kebijakannya menjadi dua jalur. Kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga stabilitas, sementara kebijakan makroprudensial dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Destry menegaskan, BI tidak menaikkan BI-Rate meski menghadapi tekanan dari kondisi suku bunga global. Sebagai gantinya, bank sentral menempuh inovasi kebijakan berupa pengurangan biaya hedging bagi investor asing yang masuk ke Indonesia.
“Kami memberikan sesuatu dalam bentuk insentif untuk hedging, biaya hedging kalau asing masuk ke sini, capital inflow masuk, kita berikan insentif dalam bentuk pengurangan biaya hedging-nya,” jelas Destry.
Hasil dari kebijakan tersebut mulai terlihat sejak sebulan pelaksanaannya. “Inflow yang memanfaatkan hedging cost kita ini sudah mencapai sekitar USU7 miliar,” katanya.
Menurut Destry, kebijakan pengurangan biaya hedging ini membantu menjaga stabilitas rupiah sekaligus memperkuat cadangan devisa tanpa harus mengerek BI-Rate.
Langkah ini menjadi salah satu bukti bahwa instrumen kebijakan di luar suku bunga tetap dapat diandalkan untuk mengelola arus modal asing.
Di sisi lain, kebijakan makroprudensial BI diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor-sektor strategis, salah satunya perumahan.
Destry menyebut sektor perumahan memiliki forward and backward linkage yang tinggi, karena pembangunan rumah tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menggerakkan warung, transportasi, perdagangan bahan bangunan, serta berbagai aktivitas ekonomi pendukung lainnya.
“Jadi interlinkage-nya itu menjadi sangat tinggi,” tambahnya.
“Nah, ini makanya dengan apa yang tadi kita capai, saya rasa ini menjadi hal yang sangat positif karena apa yang kami keluarkan ternyata memberikan dampak nyata di sektor riil, pertumbuhan sektor perumahan, dan juga tentunya untuk penciptaan lapangan kerja yang lebih besar,” pungkas Destry.









