BERTUAHPOS.COM — Jepang, lewat universitas dan perusahaan riset mendorong untuk mengembangkan metode pemadaman yang lebih efektif, termasuk penyemprotan udara menggunakan alat pemadam api busa dan pemanfaatan kendaraan konstruksi untuk mengamankan pasokan air. Kebakaran yang menghanguskan hampir 1.633 hektar di Otsuchi, Prefektur Iwate, bulan lalu semakin memperkuat urgensi penerapan teknologi ini dalam waktu dekat.
Hal ini disampaikan oleh Profesor Kazuya Uezu dari Universitas Kitakyushu, Kamis, 28 Mei 2026, dikutip Bertuahpos dari The Japan News. “Ketika ranting dan dedaunan ditutupi dengan alat pemadam api busa, penyalaan dapat ditekan dan kami memperkirakan laju penyebaran ke arah angin akan melambat,” ujarnya.
Sebuah tim peneliti yang dipimpin Prof. Tomonori Kawano, spesialis teknik bio-ekologi dari Universitas Kitakyushu, tengah mengerjakan metode pemadaman kebakaran dari udara menggunakan alat pemadam api busa berbasis sabun. Metode ini bekerja dengan menyemprotkan busa di depan jalur api untuk membentuk penghalang yang menghentikan penyebaran lebih lanjut.
Alat pemadam api busa bekerja dengan cara memutus pasokan oksigen ke sumber api, dan berbeda dari air yang cepat menguap akibat panas, busa mempertahankan efektivitasnya jauh lebih lama. Namun produk busa standar selama ini mengandung surfaktan sintetis yang berpotensi membahayakan sumber air dan ekosistem, sehingga jarang digunakan dalam penanganan kebakaran hutan hingga saat ini.
Tim peneliti pun mengambil jalur berbeda dengan menggunakan alat pemadam api busa berbahan dasar sabun alami yang mudah terurai secara hayati. Uji coba melalui helikopter pemadam kebakaran sudah dilakukan di Kitakyushu pada Maret lalu untuk menguji efektivitas teknologi ini di kondisi lapangan yang sesungguhnya.
Tantangan teknis tetap muncul selama uji coba berlangsung, terutama saat angin kencang yang membuat penyemprotan dari udara sulit diarahkan secara akurat ke target. Menurunkan ketinggian helikopter terlalu rendah pun berisiko menyebarkan api lebih jauh karena tekanan angin yang bertiup langsung ke bawah.
Selama percobaan, tim menyelidiki konsentrasi optimal alat pemadam api saat dicampur dengan air, serta kecepatan dan ketinggian terbang terbaik untuk penyemprotan. Hasilnya menunjukkan bahwa busa lebih mudah dijatuhkan secara tepat ke target ketika konsentrasinya berada di atas tingkat tertentu.
Profesor Uezu yang berspesialisasi dalam teknik kimia dan kinerja pemadam kebakaran menyebut beberapa tantangan utama yang masih perlu diatasi sebelum teknologi ini bisa diterapkan secara luas.
“Tantangan dalam mempromosikan penerapannya meliputi pengurangan biaya material dan transportasi, serta standardisasi teknik operasional,” katanya.
Di sisi lain, mengamankan pasokan air juga menjadi tantangan tersendiri dalam pemadaman kebakaran hutan berskala besar. Mitsubishi Research Institute mengembangkan solusi kolaboratif dengan memanfaatkan kendaraan konstruksi milik perusahaan swasta bersama armada mobil pemadam kebakaran konvensional.
Laporan yang disusun lembaga riset tersebut menjelaskan bahwa truk pompa beton dapat digunakan untuk melepaskan air dalam volume besar dari posisi yang tinggi, sementara truk penyiram air difungsikan untuk mengangkut air dari sumber yang jauh. Salah satu contoh konkret yang dipaparkan adalah penggunaan truk pengaduk untuk mengangkut air dari sungai yang jaraknya jauh menuju waduk pemadam kebakaran, guna mendukung operasi truk pompa pemadam kebakaran di lapangan.
Laporan tersebut juga akan dibagikan kepada dinas pemadam kebakaran di seluruh Jepang sebagai panduan praktis. “Jika kita membangun kerangka kerja sama terlebih dahulu, kita akan dapat merespons dengan cepat jika terjadi bencana,” kata Kazunari Nakamura, peneliti senior di Mitsubishi Research Institute.
Pemerintah pusat Jepang pun aktif mendorong dinas pemadam kebakaran di seluruh negeri untuk membuat perjanjian kerja sama dengan perusahaan swasta demi memperkuat kapasitas respons darurat. Profesor Kazunori Kuwana dari Universitas Sains Tokyo, yang ahli dalam ilmu kebakaran, menilai langkah ini sangat mendesak.
“Kebakaran hutan pada dasarnya sulit dipadamkan. Karena diperkirakan akan terus meningkat skalanya, perlu untuk mengumpulkan pengetahuan terbaru tentang pemadaman kebakaran, seperti penggunaan alat pemadam busa,” katanya.









