BERTUAHPOS.COM — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 61 poin atau 0,35 persen ke posisi Rp17.657,5 per dolar AS pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, berdasarkan data Trading View, sementara indeks dolar AS menguat 0,07 persen ke level 99,35. Tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi sentimen kebijakan moneter AS dan memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang membayangi pasar keuangan global.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebut rupiah tengah menghadapi ujian berat, bahkan di pasar internasional sempat menyentuh level Rp17.600 sebelum Bank Indonesia melakukan intervensi. Ia memperkirakan level psikologis rupiah akan kembali diuji dalam waktu dekat jika tren penguatan dolar AS terus berlanjut.
“Dalam perdagangan di bulan Mei ini, kemungkinan besar level Rp18.000 akan tembus. Jika level Rp18.000 tertembus, ada kemungkinan besar rupiah bisa menuju Rp22.000,” ucap Ibrahim dalam keterangannya.
Ibrahim menjelaskan penguatan dolar AS saat ini didorong oleh suksesi kepemimpinan The Fed ke Kevin Warsh yang diprediksi membawa kebijakan moneter lebih disiplin. Ekspektasi pemangkasan suku bunga pada 2026 pun semakin menipis seiring dengan sikap The Fed yang diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga di tengah inflasi AS yang masih tinggi.
Kondisi nilai tukar rupiah makin tertekan oleh memanasnya situasi di Selat Hormuz antara AS dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak mentah global. Lonjakan harga minyak itu berdampak langsung pada membengkaknya beban subsidi BBM di dalam negeri yang pada gilirannya menekan stabilitas nilai tukar.
“Kepemimpinan Fed saat ini sudah pindah ke tangan Kevin Warsh. Dengan inflasi yang tinggi di AS dan kenaikan harga bensin, ada kemungkinan besar di tahun 2026 bank sentral AS tidak akan menurunkan suku bunga,” lanjut Ibrahim.
Mayoritas mata uang Asia juga ikut melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Yen Jepang terdepresiasi 0,12 persen, won Korea melemah 0,56 persen, ringgit Malaysia dan rupee India masing-masing turun 0,56 persen dan 0,21 persen terhadap greenback.
Menghadapi volatilitas yang tinggi, Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar internasional atau offshore untuk menjaga rupiah agar tidak merosot lebih dalam. Ibrahim mencatat meski pasar lokal sedang libur, BI terus berupaya menarik rupiah kembali ke bawah level Rp17.600 melalui berbagai instrumen moneter yang tersedia.
“Ada kemungkinan besar dalam pertemuan bulan Mei ini Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga, antara 25 basis poin hingga 50 basis poin. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah,” ucap Ibrahim.
Meski dibayangi tekanan eksternal yang besar, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga yang tercermin dari kepemilikan obligasi negara yang masih didominasi investor domestik. Dominasi investor lokal di pasar surat utang negara itu diharapkan dapat menjadi bantalan yang meredam risiko pelarian modal asing secara masif dan menjaga nilai tukar rupiah dari tekanan yang lebih dalam.









