BERTUAHPOS.COM — Konflik Timur Tengah berpotensi menjadi penyebab tekanan global ke perekonomian nasional. Bank Indonesia memetakan risiko dari sektor finansial, komoditas, dan perdagangan agar stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan rambatan pertama datang dari sektor finansial. Menurutnya, ketidakpastian global mendorong perpindahan modal ke aset aman dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Sehingga mendorong terjadinya capital outflow untuk emerging market, termasuk Indonesia,” ucap Destry dalam Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (Pinisi) di Grha Bhasvara Icchana, Bank Indonesia pada 27 April 2026.
Jalur kedua berasal dari komoditas, terutama energi, seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Gangguan distribusi minyak dunia dinilai bisa memicu kenaikan harga berbagai komoditas lain seperti emas dan batu bara.
Selain itu, jalur ketiga berasal dari perdagangan global. Hambatan logistik dan transportasi antarnegara berisiko mengganggu rantai pasok serta arus barang internasional.
“Sehingga (dampak) itu meluas sehingga meningkatkan harga bukan hanya minyak tetapi komoditi lainnya. Mulai dari emas hingga batu bara,” kata Destry.
Meski ada tekanan eksternal, Bank Indonesia tetap optimistis ekonomi nasional mampu tumbuh 5,4 persen pada triwulan I-2026. Namun pemerintah diminta terus memperkuat mesin pertumbuhan dari dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada kondisi global.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 menunjukkan konsumsi rumah tangga menyumbang 53,88 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara investasi memberi kontribusi 28,77 persen dan menjadi penopang penting ekspansi ekonomi nasional.
Bank Indonesia juga melihat sektor korporasi masih menunjukkan tren positif. Penjualan, ekspansi usaha, serta belanja modal perusahaan disebut terus meningkat dalam beberapa periode terakhir.
Sebagai langkah konkret, BI mengoptimalkan Program Pinisi untuk mempertemukan kebutuhan pembiayaan dunia usaha dengan likuiditas perbankan. Program tersebut diharapkan memperkuat sektor riil dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
“Oleh karena itu kami melihat bahwa apa yang terjadi dalam dua bulan terakhir makin mempertegas bahwa kita harus memperkuat ekonomi domestik. Karena memang sebenarnya ekonomi Indonesia itu adalah domestic economic oriented,” tutur Destry.[]









