BERTUAHPOS – Permintaan minyak sawit global berpotensi melemah pada 2026 seiring meningkatnya pasokan minyak nabati alternatif yang lebih murah ke China. Kondisi ini menjadi sinyal peringatan bagi pelaku industri sawit Indonesia karena China merupakan pasar terbesar minyak sawit dunia.
China saat ini memperoleh pasokan minyak kedelai dan minyak kanola dengan harga yang lebih kompetitif. Diskon harga tersebut membuat importir di negara itu memiliki lebih banyak pilihan selain minyak sawit. Dampaknya, volume impor sawit berisiko tertekan dan memengaruhi pergerakan harga crude palm oil (CPO) di pasar global.
Kesepakatan dagang China dengan Kanada membuka akses lebih luas terhadap minyak kanola dengan tarif dan harga yang lebih bersaing. Selain itu, China juga meningkatkan pembelian kanola dari Australia serta memperbesar impor minyak kedelai dalam jumlah signifikan. Lonjakan suplai ini memperkuat stok minyak nabati domestik dan menekan kebutuhan impor sawit.
Pelaku pasar menilai permintaan China tidak akan melonjak signifikan meski memasuki momentum konsumsi seperti Tahun Baru Imlek. Importir disebut semakin sensitif terhadap pergerakan harga di bursa komoditas, termasuk di Dalian Commodity Exchange, yang menjadi acuan perdagangan minyak nabati di China.
Tekanan juga terasa di kawasan Asia Tenggara. Data otoritas sawit Malaysia menunjukkan ekspor ke China mengalami penurunan tajam sepanjang tahun lalu. Situasi ini memperlihatkan adanya pergeseran preferensi pembeli China ke minyak nabati alternatif.
Di sisi lain, produksi sawit yang kuat di Indonesia serta output minyak kedelai global yang tinggi turut membebani pasar. Kombinasi pasokan melimpah dan persaingan harga antarminyak nabati berpotensi membuat harga CPO bergerak lebih rendah dalam jangka menengah.
Meski demikian, China tetap bergantung pada impor minyak nabati seperti minyak sawit, minyak kedelai, kanola, dan bunga matahari untuk memenuhi kebutuhan domestik. Saat ini, minyak kedelai masih mendominasi sekitar 40% konsumsi minyak goreng di negara tersebut. Sementara itu, penggunaan minyak sawit terus tumbuh secara bertahap karena sifatnya yang serbaguna dan memiliki daya simpan lebih lama.
Perkembangan ini menjadi perhatian serius bagi eksportir sawit Indonesia. Dinamika permintaan China akan sangat menentukan arah harga CPO global, sekaligus memengaruhi kinerja ekspor dan penerimaan devisa nasional pada 2026.***
Sumber: CNBC Indonesia









