BERTUAHPOS — Di negara padang pasir seperti Libya, pertanian sering menghadapi keterbatasan air dan penggunaan pestisida yang tidak terkendali. Namun sebuah inovasi menghadirkan angin segar.
Sistem akuaponik membuka cara baru untuk menanam sayuran dan membudidayakan ikan sekaligus—dengan penggunaan air yang jauh lebih efisien.
Salah satu pelopornya adalah Abdallah El Fandi, pemuda berusia 24 tahun yang membangun pertanian akuaponik bernama Hydro Harvest di pinggiran Tripoli. Di tempat ini, akar tanaman tidak menyentuh tanah.
Selada, arugula, mint, basil, dan kale tumbuh di atas papan mengambang, sementara nutrisinya berasal dari air kaya unsur hara di dalam tangki raksasa.
Abdallah menggunakan sistem deep water culture, di mana air terus bersirkulasi antara tanaman dan kolam ikan tilapia. Kotoran ikan menghasilkan nitrogen dan fosfor yang dibutuhkan tanaman, sementara tanaman membantu menyaring air agar tetap bersih.
“Pompa menjaga air tetap kaya oksigen, menciptakan siklus tertutup yang efisien,” katanya seperti dilihat dari Channel Youtube DW Indonesia, Jumat, 21 November 2025.
Sistem ini menjadi solusi penting karena pertanian konvensional di Libya masih sangat bergantung pada pestisida tanpa regulasi jelas. Residu kimia tidak hanya berbahaya bagi kesehatan, tetapi juga merusak lingkungan.
Dengan akuaponik, Abdallah memproduksi sayuran dan daging ikan organik tanpa pestisida maupun pupuk sintetis.
Berkat hibah Uni Eropa senilai 20 ribu euro pada 2023, Abdallah berhasil membangun proyek ini dari nol. Kini ia memasok produk organik ke sejumlah pelanggan tetap, termasuk kafe-kafe di Tripoli.
Baginya, langkah ini baru permulaan. Ia ingin menjadi bagian dari gerakan besar meningkatkan ketahanan pangan Libya dan menginspirasi generasi muda untuk ikut berinovasi.
Inovasi terus dilakukan. Abdallah kini menambahkan tanaman azolla dalam sistemnya. Tanaman air ini membantu menutup permukaan kolam, mengurangi penguapan, mencegah nyamuk bertelur, sekaligus menjadi pakan ikan karena kandungan proteinnya tinggi.
Meski tantangan ekonomi dan rendahnya kesadaran masyarakat masih menjadi hambatan, Abdallah optimistis. Ia percaya perubahan perlahan mulai terjadi, dan ketika pasar organik Libya tumbuh, Hydro Harvest siap menjadi pelopornya.
Inovasi akuaponik menunjukkan bagaimana pertanian masa depan bisa berjalan lebih lestari, efisien, dan cocok bagi negara dengan sumber daya air terbatas. Libya kini mulai melihat masa depan bercahaya lewat kolaborasi cerdas antara ikan dan tanaman.***









