BERTUAHPOS – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Bursa Malaysia Derivatives diperkirakan bergerak dalam kisaran ketat pada pekan depan.
Minimnya katalis pasar membuat pergerakan harga cenderung terbatas, menurut analis pasar minyak sawit David Ng.
Ng menyebut harga CPO kemungkinan bertahan di rentang RM4.300 hingga RM4.480 per ton.
“Pasar masih menunggu pemicu baru, terutama dari data produksi minyak sawit Malaysia,” ujarnya, dilansir dari Bernama, Senin, 8 September 2025.
Kepala penelitian komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, menegaskan pasar global kini menanti laporan resmi Asosiasi Minyak Sawit Malaysia terkait produksi Agustus.
Data ini dianggap krusial bagi arah harga CPO dalam beberapa pekan ke depan.
Bagani memperkirakan stok minyak sawit Malaysia pada akhir Agustus 2025 mencapai 2,214 juta ton.
Angka ini naik 4,76 persen dibanding Juli yang sebesar 2,113 juta ton. Kenaikan stok dipicu oleh peningkatan produksi sebesar satu persen menjadi 1,831 juta ton.
Secara mingguan, kontrak berjangka September 2025 naik RM63 ke posisi RM4.371 per ton. Kontrak Oktober 2025 juga menguat RM65 menjadi RM4.412 per ton.
Kontrak November 2025 tercatat meningkat RM68 ke level RM4.448 per ton. Sementara itu, kontrak Desember 2025 naik RM67 menjadi RM4.475 per ton. Kontrak Januari 2026 dan Februari 2026 masing-masing naik RM65 menjadi RM4.490 dan RM4.482 per ton.
Volume perdagangan mingguan menurun menjadi 141.151 lot dari 294.986 lot pada pekan sebelumnya.
Open interest juga sedikit melemah menjadi 252.812 kontrak dibanding 253.380 kontrak pada minggu sebelumnya.
Harga CPO fisik untuk wilayah Selatan Malaysia pada September juga tercatat naik RM30 ke level RM4.400 per ton.
Kenaikan ini menunjukkan adanya permintaan stabil di pasar fisik meski volume perdagangan berjangka menurun.
Pasar CPO sempat tutup pada Jumat, 5 September, karena libur umum Maulidur Rasul.
Dengan minimnya katalis eksternal, pelaku pasar kini memfokuskan perhatian pada data produksi dan stok Malaysia.
Angka tersebut diyakini menjadi penentu arah harga CPO dalam jangka pendek, terutama di tengah fluktuasi harga minyak nabati global.***









