BERTUAHPOS.COM — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat pada Senin (7/9/2026). Penguatan ditopang oleh kenaikan harga minyak mentah global serta reli kontrak palm olein di Dalian Commodity Exchange (DCE) China.
Senior Analyst Fastmarkets Palm Oil Analytics, Dr Sathia Varqa, menjelaskan bahwa ekspektasi risiko produksi turut menjadi pendorong utama. Kondisi cuaca musiman dan fenomena El Niño dinilai berpotensi menekan pasokan dalam waktu dekat.
“Faktor-faktor ini mengangkat kontrak acuan November ke penutupan tertinggi kedua tahun ini,” ujarnya, dikutip dari Bernama, Selasa (8/9/2026).
Selain risiko produksi, optimisme terhadap permintaan dari India juga memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga CPO. Kombinasi faktor eksternal dan fundamental ini membuat kontrak berjangka bergerak naik hampir di seluruh tenor.
Pada penutupan perdagangan, kontrak September 2026 tercatat naik RM90 ke level RM4.698 per ton. Kenaikan ini menjadi yang terbesar di antara seluruh kontrak aktif.
Kontrak Oktober 2026 menguat RM41 ke posisi RM4.816 per ton. Sementara itu, kontrak November 2026 sebagai acuan utama naik RM49 ke RM4.978 per ton.
Untuk kontrak Desember 2026, harganya bertambah RM56 menjadi RM5.110 per ton. Ini menandai pergerakan di atas level psikologis RM5.000 untuk kontrak bulan lanjutan.
Kontrak Januari 2027 juga ikut menguat sebesar RM67 ke RM5.294 per ton. Adapun kontrak Februari 2027 mencatat kenaikan tertinggi kedua, yaitu RM73 ke RM5.347 per ton.
Di sisi lain, volume perdagangan justru menyusut. Total transaksi tercatat 91.019 lot, lebih rendah dibandingkan 116.950 lot pada Jumat pekan lalu.
Kendati volume menurun, open interest justru bertambah dari 334.025 kontrak menjadi 337.392 kontrak. Peningkatan ini mengindikasikan pelaku pasar tetap menahan posisinya di tengah tren kenaikan harga.
Untuk harga fisik, CPO September South tercatat naik RM30 ke level RM4.700 per ton. Kenaikan ini sejalan dengan pergerakan kontrak berjangka bulan terdekat.
Sathia Varqa menambahkan bahwa kombinasi sentimen produksi dan permintaan masih akan menjadi penentu arah harga CPO ke depan. Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan cuaca dan kebijakan impor India.
Dengan penutupan ini, kontrak November berhasil mencatat posisi tertinggi kedua sepanjang tahun berjalan. Kondisi tersebut menegaskan bahwa reli CPO masih memiliki ruang untuk berlanjut.









