BERTUAHPOS — Fakultas Pertanian Universitas Riau menggelar The 2nd International Conference on Agriculture, Food and Environmental Science (ICAFES 2025) di Integrated Class Room, Sabtu 30 Agustus 2025. Konferensi ini mengangkat tema “Mendorong Pertanian Berkelanjutan untuk Menjamin Ketahanan Pangan di Tengah Perubahan Iklim.”
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Riau, Dr. Ahmad Rifai, S.P, M.P, dalam pidato pembukaannya menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta dan tamu undangan. Ia menegaskan bahwa tema tahun ini sangat relevan dengan kondisi global saat ini, di mana perubahan iklim, degradasi lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan meningkatnya permintaan pangan menjadi tantangan serius bagi seluruh bangsa.
“Ketahanan pangan tidak lagi menjadi urusan satu negara semata, tetapi merupakan kepedulian bersama yang membutuhkan kerja sama, inovasi, dan tanggung jawab kolektif,” ujar Ahmad Rifai.
Sebagai tuan rumah, Fakultas Pertanian Universitas Riau menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi pertanian, dengan mengintegrasikan pendekatan teknis, sosial-ekonomi, lingkungan, dan kebijakan. Ia menyebutkan konferensi kali ini mencakup tujuh ruang lingkup utama, mulai dari agronomi, teknologi pangan, kebijakan sosial-ekonomi, kehutanan, proteksi tanaman, ilmu tanah, hingga teknologi hijau.
ICAFES 2025 juga digelar bersamaan dengan Pertemuan Tahunan Dekan Pertanian BKS PTN Barat serta Workshop Teknis Instrumen Akreditasi LAM-PTIP. Menurut Ahmad Rifai, sinergi tiga agenda besar ini menunjukkan keseriusan perguruan tinggi dalam memperkuat kolaborasi akademik, pengembangan institusi, dan penjaminan mutu pendidikan tinggi pertanian.
“Kehadiran Bapak Jatmiko Krisna Santosa, Direktur Utama PalmCo, sebagai pembicara kunci mengingatkan kita akan pentingnya peran industri dalam mendorong pertanian berkelanjutan,” tambahnya.
Ahmad Rifai berharap konferensi ini bukan hanya menjadi forum akademik, tetapi juga platform strategis untuk memperkuat jejaring internasional, menghasilkan publikasi bereputasi, memberi solusi nyata atas tantangan pertanian, hingga menginspirasi kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Jatmiko Soroti Tantangan Iklim untuk Sawit
Direktur Utama PTPN IV (PalmCo), Jatmiko K Santosa, hadir sebagai Keynote Speaker dalam ICAFES 2025. Kehadirannya menjadi sorotan, mengingat PalmCo merupakan perusahaan sawit terbesar di dunia dengan perkebunan yang tersebar luas mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Dalam penyampaiannya, Jatmiko menekankan bahwa perubahan iklim global adalah tantangan terbesar industri sawit saat ini. Cuaca ekstrem, hujan tidak menentu, dan kekeringan berkepanjangan terbukti menekan produktivitas tandan buah segar (TBS).
“Produktivitas kelapa sawit sangat erat kaitannya dengan kondisi cuaca. Ketidakpastian iklim membuat kita harus mencari strategi agar produksi tetap stabil,” ujarnya.
Replanting dan Bibit Unggul Jadi Kunci
PalmCo menyiapkan strategi melalui peremajaan sawit rakyat (PSR) dengan bibit unggul bersertifikat (high-yielding varieties). Sejak 2024, PalmCo telah menyalurkan 5,7 juta bibit unggul untuk 40 ribu hektare kebun rakyat, melibatkan lebih dari 20 ribu petani kecil.
Perusahaan juga memfasilitasi pencairan dana BPDPKS untuk peremajaan seluas 15 ribu hektare melalui kemitraan dengan koperasi (KUD). Menurut Jatmiko, rata-rata produktivitas petani kecil masih di kisaran 2–3 ton CPO per hektare per tahun, jauh di bawah perkebunan besar yang bisa mencapai 6 ton per hektare.
“PSR adalah kunci. Tanpa itu, kita akan kehilangan daya saing sekaligus melemahkan kontribusi sawit bagi ketahanan pangan dan energi,” tegasnya.
Sawit untuk Energi Hijau Nasional
PalmCo saat ini mengelola 618 ribu hektare perkebunan dari Sumatra hingga Sulawesi, menjadikannya salah satu pemain strategis dalam penyediaan bahan baku biodiesel nasional.
Pemerintah menargetkan penerapan B50 pada 2027, yang diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 7,2 juta ton CPO atau setara 2 juta hektare lahan baru. “Tantangannya bukan hanya soal ketersediaan lahan, tetapi juga potensi konflik sosial dan isu lingkungan. Maka, kuncinya ada di intensifikasi melalui replanting dan penggunaan bibit unggul,” jelas Jatmiko.
Selain biodiesel, PalmCo menyiapkan ekspansi ke energi hijau bernilai tambah, seperti pembangunan fasilitas Sustainable Aviation Fuel (SAF), 20 unit bioCNG, hingga pemanfaatan biomassa sawit untuk listrik.
“Industri sawit adalah green gold. Nilai tambahnya besar jika kita berani masuk ke circular economy, bukan sekadar mengekspor CPO mentah,” tambahnya.
Circular Economy dan ESG
Jatmiko juga menyoroti potensi ekonomi sirkular dalam industri kelapa sawit. Produk sampingan seperti tandan kosong (TKKS), limbah cair pabrik (POME), hingga cangkang sawit, bisa diolah menjadi biofuel, biogas, biochar, pupuk organik, hingga pakan ternak.
“Dengan pengelolaan yang tepat, limbah sawit bukan lagi masalah, tetapi peluang bisnis berkelanjutan,” ujarnya.
PalmCo memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Pada 2024, perusahaan mencatat skor 55/100 dalam Corporate Sustainability Assessment (CSA) S&P Global, menempatkannya di posisi kedua dunia untuk sektor perkebunan.
Digitalisasi Perkebunan
Untuk meningkatkan efisiensi, PalmCo mulai menerapkan digitalisasi perkebunan. Teknologi sensor IoT, pemetaan geospasial, hingga mekanisasi panen berbasis kendaraan listrik diterapkan untuk menekan biaya, mengurangi kehilangan hasil panen, serta menjaga kualitas CPO.
“Kolaborasi dengan petani kecil adalah fondasi. Kita tidak bisa maju sendiri, tapi harus bersama-sama. Produktivitas petani adalah fondasi industri sawit berkelanjutan,” kata Jatmiko.
Tekanan Global
Meski menjadi penyumbang sekitar 60% pasokan sawit global, Indonesia menghadapi berbagai tekanan internasional. Pertumbuhan produksi CPO nasional periode 2020–2024 hanya 1,04% per tahun, jauh tertinggal dari minyak nabati lain seperti rapeseed yang tumbuh 6,25%.
Selain itu, regulasi Uni Eropa terkait deforestasi (EUDR) juga berpotensi mengurangi akses ekspor sawit Indonesia.
“PalmCo memilih menjawab tantangan dengan memperkuat produktivitas, hilirisasi, dan kepatuhan pada standar keberlanjutan. Itu satu-satunya cara agar sawit tetap relevan dalam rantai pasok global,” ujar Jatmiko.
Sawit Penopang Ketahanan Nasional
Dengan berbagai strategi tersebut, PalmCo berupaya mencari jalan tengah antara menjaga daya saing ekspor dan memastikan ketersediaan domestik untuk energi hijau.
“Kolaborasi dengan petani, pemerintah, dan lembaga keuangan mutlak diperlukan. Tanpa itu, sawit bisa kehilangan momentum. Tapi dengan strategi tepat, sawit bisa jadi lokomotif ketahanan pangan, energi, dan sekaligus transisi hijau Indonesia,” pungkas Jatmiko.
Konferensi ICAFES yang dihadiri akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara ini mempertegas bahwa transformasi sawit berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah menjadi agenda nyata yang sedang dijalankan Indonesia.***









