BERTUAHPOS — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya inovasi riset pangan, diversifikasi komoditas lokal, serta pemanfaatan teknologi pertanian presisi sebagai strategi menghadapi tantangan ketahanan pangan global. Langkah ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tetapi juga memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, dalam forum diskusi ROAFERIAN #12 bertajuk “Sinergi Superfood, Pangan Alternatif, dan Pertanian Presisi untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan” yang digelar di KKB Kusnoto, Bogor, 14 Agustus, dilansir dari laman resmi BRIN.
Puji mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim, pertumbuhan populasi, hingga ancaman krisis pangan global. Di sisi lain, pemerintah menargetkan pemenuhan kebutuhan pangan untuk 82,9 juta masyarakat, khususnya anak-anak, melalui program Makan Bergizi Gratis.
Dia menegaskan pentingnya sinergi superfood, pangan alternatif, dan pertanian presisi sebagai strategi menghadapi tantangan tersebut. Diversifikasi pangan dan pemanfaatan potensi lokal seperti umbi-umbian, serealia, kacang-kacangan, buah tropis, serangga, dan ikan disebut sebagai solusi strategis.
“Teknologi metabolomik, kemasan modern, dan sistem keamanan pangan menjadi elemen vital agar produk pangan Indonesia dapat memenuhi standar global. Riset tidak hanya fokus pada produktivitas, tetapi juga pengelolaan sumber daya genetik, pengolahan berkelanjutan, serta pemenuhan protein dari tumbuhan, hewan, dan laut,” jelas Puji.
Menurutnya, BRIN memprioritaskan kolaborasi riset lintas sektor dan negara agar inovasi pangan memberi dampak nyata pada ketahanan pangan global.
Potensi Superfood Indonesia di Pasar Dunia
Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Satriyo Krido Wahono, menyoroti fakta global bahwa pada 2022 lebih dari 700 juta orang mengalami kelaparan dan 2,4 miliar orang tidak memiliki akses pangan bergizi.
Indonesia juga menghadapi tantangan ganda: keterbatasan pangan sekaligus meningkatnya penyakit degeneratif akibat pola konsumsi tidak sehat seperti hipertensi hingga diabetes. Padahal, Indonesia memiliki biodiversitas pangan luar biasa, mencakup 77 spesies sumber karbohidrat, 75 spesies protein hewani, dan 26 jenis kacang-kacangan.
“Komoditas lokal seperti tempe, kakao, manggis, alpukat, jahe, dan kunyit berpotensi besar sebagai superfood yang mampu menembus pasar dunia. Namun, kontribusi Indonesia dalam publikasi ilmiah global masih sangat minim,” ungkap Satriyo.
Dia menambahkan, BRIN sedang mengembangkan rencana riset pangan 2025–2028 dengan fokus pada beras analog berbasis singkong; meat analog dari protein nabati dan serangga; tempe non-kedelai dari kacang lokal; dan pemanfaatan mikroalga, spirulina, dan rumput laut.
Seluruh riset didukung dengan teknologi pengemasan modern, sistem keamanan pangan, dan pengelolaan limbah.
Pertanian Presisi Jadi Tulang Punggung Inovasi
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, menegaskan bahwa pertanian presisi merupakan tulang punggung transformasi sektor pangan. Melalui pemanfaatan IoT, robotik, sensor, drone, hingga kecerdasan buatan (AI), pertanian presisi memungkinkan optimasi berbasis data yang akurat.
“Produktivitas padi saat ini cenderung stagnan. Diperlukan inovasi pemuliaan berbasis genomik, metabolomik, hingga speed breeding untuk memangkas siklus pemuliaan dari lima tahun menjadi dua hingga tiga tahun,” jelas Yudhistira.
BRIN juga telah menguji platform berbasis deep learning untuk prediksi panen padi dengan akurasi 61%, serta memanfaatkan drone dan satelit Geo-MIMO untuk memantau kesehatan tanaman dan kebutuhan pupuk.
Empat fokus riset besar pun ditetapkan, yakni: optimasi produksi tanaman, ternak, perikanan, dan pengembangan produk pertanian. Seluruh riset diarahkan agar menghasilkan teknologi siap pakai, paten, publikasi internasional, serta memperkuat kapasitas SDM riset nasional.***









