Makrifat Burung Surga (4) : Terjerat Membaca Istighfar

Minggu, 21 Mei 2017 12:21
Makrifat Burung Surga (4) : Terjerat Membaca Istighfar

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU - Tangis kesedihan burung Delamukan itu ternyata didengar Sang Maha Pencipta, Maha Mendengar dan Maha Welas Asih. Tanda-tandanya, kelelawar yang selama ini tak pernah terbang di atas pohon ini, malam itu melayang-layang melintas di atas pohon wudi. Kelelawar itu membawa buah pohon beringin, seperti biasa yang ia lakukan setiap malam.

Sambil terbang, buah pohon beringin itu dijatuhkan ke bawah. Buah itu memenuhi pohon Wudi yang dijadikan rumah burung-burung Bayan itu. Dan tak lama kemudian, buah beringin itu tumbuh subur. Batangnya menjalar melingkari pohon Wudi sampai mencapai puncak. Sedang akar-akarnya menjulur ke bawah hingga menyentuh tanah.

Baca: Burung Surga (3) : Dizalimi Mengadu Sang Pencipta

Pohon Wudi yang semula tak bisa dijangkau manusia itu kini terbuka untuk siapa saja. Pohon beringin berikut akarnya telah menghilangkan keterpencilan sarang burung Bayan di atas pohon Wudi. Dan siapa saja yang menginginkan, dengan gampang merengkuhnya.

Suatu hari datanglah tukang pikat burung, namanya Ki Mesakat. Sudah cukup lama Ki Mesakat ini mencari pohon yang menjadi tempat tinggal burung-burung. Dan, kini ia mendapatkan pohon Wudi yang menjadi sarang serombongan burung Bayan.

Baca: Makrifat Burung Surga (2) : Ki Delamukan Mengusik Bayan

Melihat banyaknya burung di atas pohon Wudi, Ki Mesakat pun gembira. Ia segera memanjat pohon itu, ketika semua burung Bayan sedang pergi mencari makan. Pemikat burung ini mulai bekerja. Ia melumuri semua cabang pohon itu dengan perekat. Setelah itu, sekitar pukul setengah empat sore, Ki Mesaket pun turun dari pohon. Ia menunggu hasil kerjanya. Ia akan kembali ke pohon Wudi, nanti ketika hari sudah menjelang malam.

Sejam kemudian, rombongan burung Bayan mulai berdatangan. Tanpa curiga, burung-burung itu hinggap di cabang-cabang pohon dengan enaknya. Dan sudah bisa diduga, Bayan-Bayan itu pun terperangkap. Kakinya seperti terikat erat di cabang-cabang pohon. Mereka tak bisa bergerak. Tak seekor pun Bayan yang bebas dari pikat Ki Mesakat.

Saat itu terjadi keramaian di pohon ini. Burung-burung Bayan itu berteriak-teriak mengaduh. Mereka merengek meminta pertolongan kepada para burung yang melintas di sekitar pohon Wudi. Burung Bayan itu tak bisa bergerak sedikit pun, dan tak ada pula yang menolongnya. Sang Ratu lalu berkata: "Inilah keadilan Tuhan. Kita telah tertimpa marabahaya. Hati-hatilah. Dan sayapmu supaya dirapatkan ke tubuh agar tidak terkena perekat. Mari kita bersabar, dan terimalah hukuman Tuhan ini karena hukuman ini akibat oleh ulah kita sendiri.

Baca: Makrifat Burung Surga (1) : 99 Burung Bayan Hijrah

Kita selama ini telah salah, terlalu percaya pada kebesaran pohon Wudi. Kita lupa kepada kekuasaan Tuhan. Marilah sekarang kita sama-sama bertobat membaca istighfar meminta ampunan kepada Tuhan Allah." (jss/bersambung)

Klik tombol Like jika Anda suka dengan Berita ini

TRAVELLING

Berita Terkini

Setelah Polda dan Kantor Gubernur, Giliran Kantor DPRD Riau yang Digeruduk Massa Masyarakat Sakai
Senin, 19 Pebruari 2018 12:45

Setelah Polda dan Kantor Gubernur, Giliran Kantor DPRD Riau yang Digeruduk Massa Masyarakat Sakai

Setelah melakukan aksi demo di Polda dan kantor gubernur, giliran Kantor DPRD Riau yang digeruduk massa aksi demo masyarakat Sakai.

Status Siaga Darurat Karhutla Ditetapkan Hingga 31 Mei 2018
Senin, 19 Pebruari 2018 12:40

Status Siaga Darurat Karhutla Ditetapkan Hingga 31 Mei 2018

Status siaga darurat Karhutla sudah ditetapkan. Itu dimulai dari Februari hingga 31 Mei 2018. Status siaga darurat karhuta ditetapkan karena sejumlah daerah di Riau sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Pendemo Suku Sakai Jalan Kaki ke Kantor DPRD Riau
Senin, 19 Pebruari 2018 12:33

Pendemo Suku Sakai Jalan Kaki ke Kantor DPRD Riau

Usai melakukan demo di depan kantor Polda Riau, Senin (19/2/18) ratusan mahasiswa dan masyarakat Suku Sakai, mulai bergerak menuju Kantor DPRD Provinsi Riau.

Spanduk Lukman Edy Masih Terpajang di Jalan Hang Tuah
Senin, 19 Pebruari 2018 12:25

Spanduk Lukman Edy Masih Terpajang di Jalan Hang Tuah

Spanduk Paslon dengan jargon Gubernur Zaman Now masih terpajang jelas di Jalan Hang Tuah, Pekanbaru.  

Puncak Musim Kemarau Terjadi di Juni hingga Agustus
Senin, 19 Pebruari 2018 12:15

Puncak Musim Kemarau Terjadi di Juni hingga Agustus

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Juni hingga Agustus 2018 nanti. 

Masa Kampanye Pilgub Riau, 1 Desa Hanya Boleh 1 Posko
Senin, 19 Pebruari 2018 12:00

Masa Kampanye Pilgub Riau, 1 Desa Hanya Boleh 1 Posko

Komisioner Bawaslu Riau, Neil Antariksa menyebutkan 1 desa/kelurahan hanya boleh didirikan 1 posko pemenangan oleh Paslon Gubri.

BMKG: Februari Riau Masuk Musim Kemarau Pertama
Senin, 19 Pebruari 2018 11:43

BMKG: Februari Riau Masuk Musim Kemarau Pertama

Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Sukisto mengatakan pada bulan Februari 2018 ini, Riau sudah masuk pada musim kemarau pertama.

Demo Mahasiswa dan Masyarakat Suku Sakai, Jalan Gajah Mada Ditutup 1 Ruas
Senin, 19 Pebruari 2018 11:28

Demo Mahasiswa dan Masyarakat Suku Sakai, Jalan Gajah Mada Ditutup 1 Ruas

Akibat demo ratusan mahasiswa dan masyarakat Suku Sakai di depan Kantor Polda Riau, Senin (19/2/2018), satu ruas Jalan Gajah Mada Pekanbaru ditutup satu ruas.

Mahasiswa dan Masyarakat Suku Sakai Serbu Polda Riau
Senin, 19 Pebruari 2018 11:20

Mahasiswa dan Masyarakat Suku Sakai Serbu Polda Riau

Ratusan mahasiswa dan masyarakat Suku Sakai menyerbu kantor Polda Riau, Senin (19/2/2018) pagi.

Dilaporkan ke Bawaslu, KPU Riau: Kami Transparan Sejak Awal
Senin, 19 Pebruari 2018 11:00

Dilaporkan ke Bawaslu, KPU Riau: Kami Transparan Sejak Awal

KPU Riau menyatakan proses pendaftaran dan penetapan cagub Riau telah transparan sejak awal.