BERTUAHPOS.COM — Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir menyebut, program sapi kurban presiden untuk Iduladha 1447 Hijriah atau 2026 Masehi menjadi bukti nyata bahwa kualitas budidaya sapi di Riau terus meningkat dari tahun ke tahun.
Mimi menjelaskan, rata-rata bobot sapi yang lolos seleksi tahun ini mencapai sekitar 901 kilogram dengan kisaran bobot mulai dari 731 kilogram hingga lebih dari satu ton. Pencapaian ini menjadi indikator positif bahwa pembinaan yang dilakukan Dinas PKH Riau kepada para peternak di berbagai kabupaten dan kota sudah membuahkan hasil yang nyata.
“Tahun ini berat sapi yang terpilih rata-rata meningkat. Bahkan peningkatan bobotnya mencapai sekitar 60 kilogram dibanding sapi tahun lalu. Ini menunjukkan peternak-peternak kita memiliki kemampuan membudidayakan sapi dengan baik,” ujar Mimi, di Pekanbaru, Senin, 19 Mei 2026.
Sapi dengan bobot terbesar tahun ini berasal dari peternak lokal Riau bernama Franto KSR yang mengusulkan sapi jenis simental berbobot 1.013 kilogram untuk alokasi bantuan tingkat provinsi. Selain itu, sejumlah daerah lain juga mengirimkan sapi berukuran jumbo, seperti Indragiri Hilir dengan sapi jenis Brangus berbobot 1.000 kilogram serta Bengkalis yang menyertakan sapi simental berbobot 961 kilogram.
Pencapaian bobot sapi kurban presiden yang terus meningkat ini tidak lepas dari program pembinaan berkelanjutan yang dilakukan DPKH Riau secara menyeluruh. Pendampingan mencakup aspek kesehatan hewan, pola pemeliharaan, hingga penguatan kualitas pakan ternak agar produktivitas peternak terus bertumbuh secara konsisten.
Mimi menegaskan bahwa keberhasilan ini harus menjadi pijakan untuk terus mendorong peternak agar semakin profesional dalam mengelola usaha peternakan mereka. Ia optimistis dengan pembinaan yang tidak pernah berhenti, kualitas dan bobot sapi yang dihasilkan peternak Riau akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.
“Dengan pembinaan dari PKH, mudah-mudahan tahun depan sapi yang terpilih bisa lebih berat lagi,” katanya penuh harap.
Mimi juga berharap program bantuan sapi Presiden tidak hanya menjadi agenda rutin setiap Iduladha semata. Lebih dari itu, ia ingin program ini menjadi pemicu semangat peternak untuk mengembangkan usaha peternakan secara lebih serius, terencana, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Motivasi untuk kembali terpilih pada tahun berikutnya dinilai menjadi pendorong alami bagi peternak agar terus berbenah dan meningkatkan standar budidaya ternak mereka. Kompetisi sehat antar peternak dalam menghasilkan sapi terbaik inilah yang pada akhirnya mengangkat kualitas peternakan Riau secara keseluruhan.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Riau telah mengusulkan sapi-sapi terbaik dari seluruh kabupaten dan kota berdasarkan sejumlah kriteria ketat, antara lain bobot terbesar, kondisi kesehatan, kelayakan fisik, serta kesiapan distribusi sesuai arahan Sekretariat Presiden dan Ditjen PKH. Proses seleksi yang ketat ini memastikan hanya sapi dengan kualitas terbaik yang layak mewakili Riau dalam program bergengsi tersebut.
Tahun ini, Riau mendapatkan total 14 ekor sapi bantuan Presiden yang distribusinya mencakup tingkat provinsi, 12 kabupaten dan kota, serta satu tokoh masyarakat. Jumlah ini mencerminkan kepercayaan pemerintah pusat terhadap kapasitas peternakan Riau yang terus berkembang.
“Adanya bantuan sapi kurban presiden ini juga memotivasi peternak untuk terus mengembangkan budidaya sapi mereka agar tahun depan kembali bisa terpilih,” tutup Mimi, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar distribusi hewan kurban, melainkan katalis nyata bagi kemajuan sektor peternakan Riau yang semakin berdaya saing.









