BERTUAHPOS — Gubernur Riau Abdul Wahid mengungkapkan bahwa situasi politik di Provinsi Riau masih terus bergerak dinamis, meskipun tahapan Pemilihan Gubernur (Pilgub) telah selesai. Ia mengakui, kondisi ini membuat posisi politik pemerintah provinsi menjadi kurang menguntungkan.
“Ada yang memelintir, iya. Saya paham karena ada situasi politik yang tidak berpihak,” kata Wahid saat coffee morning bersama dengan awak media di rumah dinasnya Jalan Diponegoro, Pekanbaru, beberapa waktu lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan Wahid saat menjelaskan kondisi keuangan daerah yang tengah mengalami tekanan signifikan. Ia menyebutkan bahwa saat ini Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Riau hanya sekitar Rp8,2 triliun, jauh berkurang dibanding 10–20 tahun lalu yang mencapai belasan triliun rupiah.
“Saya tidak berbohong dengan kondisi APBD kita, kalau tidak percaya tunggu saja hasil audit BPK,” ujar Abdul Wahid.
Selain soal APBD, Wahid juga menyinggung tren penurunan pertumbuhan ekonomi Riau dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai pemerintah daerah tidak boleh hanya berpangku tangan, melainkan harus melakukan gebrakan nyata untuk membalikkan situasi.
“Apa yang saya lakukan semata-mata untuk kemajuan Riau, tidak ada kepentingan lain,” tegasnya.
Wahid menjelaskan, saat ini terdapat tiga sektor utama yang menjadi penopang ekonomi Riau, yaitu sektor minyak dan gas (migas), perkebunan, serta industri pulp & paper. Namun, menurutnya, ketiga sektor tersebut tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya jika tidak didorong dengan penguatan nilai tambah.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya mendorong hilirisasi di semua sektor tersebut sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga ketahanan ekonomi daerah.
“Saya ingin hilirisasi diperkuat. Ini penting agar ekonomi Riau tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah,” tambahnya.
Isu lain yang juga sempat mencuat terkait pernyataannya yang ingin menjual Stadion Utama Riau. Menurutnya, Pemprov Riau harus mengeluarkan anggaran yang besar hanya untuk perawatan venue eks PON 2012 itu. Wahid menegaskan bahwa pernyataan ini disampaikannya untuk menanggapi pendapat dari mantan Gubernur Riau Mabang Mit dalam RKPD Riau di Gedung Daerah Provinsi Riau beberapa waktu lalu.
Wahid mengaku sengaja mengeluarkan statemen “…ingin menjual Stadion Utama” sebagai pemantik agar semua pihak menyadari secara real bagaimana kondisi bangunan venue eks PON itu, saat ini — secara keseluruhan — bukan cuma Stadion utama.
Atas dasar itu, Wahid menyadari bahwa kondisi yang dihadapi saat ini sangat mungkin dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu secara politis. Namun, ia menegaskan akan tetap fokus menjalankan program-program pembangunan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Kami terus bekerja, dan saya percaya bahwa masyarakat bisa menilai siapa yang benar-benar berpihak pada kemajuan daerah ini,” kata Abdul Wahid.***









