BERTUAHPOS — Gubernur Riau Abdul Wahid, mengungkapkan kekhawatiran atas menurunnya pendapatan daerah dari Dana Bagi Hasil (DBH) migas. Penurunan ini disebut memberikan tekanan besar terhadap kondisi keuangan daerah yang kini dipimpinnya.
“Dulu, produksi migas kita bisa mencapai 400 ribu barel per hari. Sekarang hanya sekitar 140 ribu barel per hari. Tentu ini berdampak signifikan terhadap pendapatan dari DBH,” kata Wahid dalam coffee morning bersama awak media di rumah dinasnya akhir pekan lalu.
Dia menyebut, jika selama ini Participating Interest (PI) 10 persen merupakan komponen besar dalam menopang pendapatan daerah dari sektor migas. Namun, menurunnya jumlah produksi berdampak langsung pada berkurangnya penerimaan daerah, termasuk biaya investasi di sektor ini membutuhkan dana yang sangat besar.
Di sisi lain, Wahid memastikan bahwa sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) lainnya seperti pajak kendaraan bermotor dan retribusi masih berjalan stabil. “Tidak ada masalah di PAD, sektor seperti pajak kendaraan masih aman. Yang menurun tajam itu justru DBH migas,” tegasnya.
Penurunan pendapatan daerah dari migas ini membuat pemerintah provinsi harus berpikir keras untuk mencari solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Salah satu strategi yang tengah digodok adalah percepatan hilirisasi di tiga sektor utama penyumbang ekonomi Riau, yakni migas, perkebunan, serta industri pulp dan paper.
“Tiga sektor ini adalah tulang punggung ekonomi Riau. Kalau kita ingin mandiri secara fiskal, salah satu jawabannya adalah hilirisasi,” ujar Wahid.
Wahid menekankan bahwa hilirisasi bukan hanya membuka peluang peningkatan pendapatan, tapi juga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk lokal, dan memperkuat daya saing ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global.
Langkah ini sejalan dengan arahan nasional untuk mendorong transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam menjadi industri bernilai tambah tinggi. Gubernur berharap dengan strategi ini, ketergantungan Riau terhadap migas bisa dikurangi secara bertahap.
“Sekarang pertanyaannya, mau dibawa ke mana Riau? Saya rasa jawabannya jelas — kita harus dorong hilirisasi,” pungkasnya.***









