BERTUAHPOS – Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang kian memanas kini membayangi stabilitas energi di dalam negeri tepat saat jutaan warga Indonesia bersiap melakukan mudik Lebaran 2026. Menanggapi ancaman gangguan pasokan minyak mentah global, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran Kabinet Merah Putih untuk segera menyusun skenario antisipasi dan langkah penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) guna menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terjebak dalam rasa aman yang semu di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian. Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Presiden meminta para menteri untuk mulai mengkaji langkah-langkah efisiensi yang konkret, termasuk kemungkinan pengurangan hari kerja jika krisis energi benar-benar melanda. Pengendalian konsumsi menjadi kunci agar anggaran subsidi tidak membengkak dan pasokan tetap terjaga hingga pelosok daerah.
“Kita tidak bisa menganggap bahwa apa pun yang terjadi kita aman. Kita bersyukur kita aman, tetapi kita juga harus tetap berupaya mengurangi konsumsi BBM kita,” tegas Presiden Prabowo Subianto di hadapan para menterinya pada 13 Maret 2026.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, mengingat Bloomberg melaporkan bahwa pergerakan masyarakat pada mudik kali ini diprediksi melampaui angka 100 juta orang. Lonjakan mobilisasi massa ini secara otomatis memicu kenaikan permintaan bahan bakar, sementara posisi Indonesia sebagai negara importir minyak mentah membuat pasar domestik sangat rentan terhadap fluktuasi harga global. Kementerian ESDM sendiri memproyeksikan konsumsi bensin akan melonjak hingga 12% sejak pertengahan Maret hingga akhir bulan ini.
Dilansir dari Bisnis.com, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, memberikan peringatan keras bahwa ketergantungan Indonesia pada impor dapat memicu inflasi tinggi jika tidak ada solusi yang taktis. Menurutnya, cadangan bahan bakar Indonesia saat ini termasuk yang paling rendah di kawasan Asia Tenggara dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, sehingga ruang gerak pemerintah dalam mengantisipasi gangguan pasokan menjadi sangat terbatas.
“Pemerintah meminta masyarakat untuk tetap tenang tanpa memberikan solusi konkret. Ini sangat berisiko terutama menjelang Idulfitri ketika konsumsi biasanya meningkat,” ujar Bhima mengingatkan potensi krisis energi yang menghantui.
Di sisi lain, Kementerian ESDM berupaya menenangkan publik dengan menyatakan bahwa stok BBM saat ini masih dalam kategori relatif aman berkat diversifikasi sumber minyak mentah. Meskipun penggunaan diesel diprediksi turun 14,5% karena melambatnya aktivitas industri, konsumsi avtur untuk penerbangan dan minyak tanah justru menunjukkan tren peningkatan signifikan. Untuk kebutuhan dapur, stok bahan bakar gas cair (LNG) tercatat masih mampu mencukupi kebutuhan masyarakat untuk 12 hingga 15 hari ke depan.
Sebagai langkah preventif, pemerintah secara tegas mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian panik (panic buying) atau menimbun bahan bakar yang dapat merusak jalur distribusi. Pengawasan di SPBU sepanjang jalur mudik akan diperketat guna memastikan pasokan mengalir tepat sasaran, sembari terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah yang menjadi variabel penentu harga minyak dunia dalam beberapa pekan ke depan.***









