BERTUAHPOS — Pemerintah menyiapkan langkah-langkah intervensi untuk menahan kenaikan harga beras dan komoditas pangan lainnya menjelang Ramadan. Upaya ini dilakukan guna menjaga stabilitas harga dan menekan laju inflasi musiman yang kerap meningkat saat bulan puasa.
Langkah antisipatif tersebut diambil menyusul pengalaman Ramadan tahun lalu, ketika inflasi bulanan melonjak hingga 1,65%. Kenaikan tersebut dipicu oleh kombinasi penyesuaian tarif listrik dan lonjakan harga pangan, menjadikannya inflasi Ramadan tertinggi dalam setidaknya lima tahun terakhir.
Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Harmono, mengatakan pemerintah akan memantau pergerakan harga pangan di pasar secara intensif. Pemantauan dilakukan untuk memastikan pasokan dan harga tetap terkendali menjelang dan selama Ramadan.
Sugeng menegaskan, apabila harga pangan mengalami kenaikan signifikan, pemerintah akan segera melakukan intervensi. Bentuk intervensi tersebut antara lain melalui operasi pasar, gerakan pangan murah, serta penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Beras (SPHB).
Selain beras, intervensi juga akan menyasar komoditas pangan strategis lainnya seperti bumbu dapur dan daging. Langkah ini bertujuan agar harga kebutuhan pokok tetap berada pada kisaran yang terjangkau oleh masyarakat.
Pelaksanaan operasi pasar akan dilakukan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) bekerja sama dengan Perum Bulog. Program ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus membantu masyarakat berpenghasilan rendah dalam memenuhi kebutuhan pangan selama Ramadan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tekanan inflasi Ramadan menunjukkan tren fluktuatif dalam lima tahun terakhir. Inflasi relatif terkendali pada Ramadan 2021 hingga 2023, namun melonjak tajam pada Ramadan 2024. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah agar lonjakan serupa tidak kembali terjadi pada Ramadan tahun ini.***









