BERTUAHPOS.COM — Teknologi pirolisis katalitik kini hadir sebagai solusi nyata atas tiga tantangan besar yang tengah dihadapi Indonesia — yakni meningkatnya limbah plastik, emisi karbon yang kian mengkhawatirkan, dan kebutuhan energi nasional yang terus tumbuh.
Teknologi pirolisis katalitik tengah dikembangkan oleh Profesor Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Didi Dwi Anggoro, bersama timnya, dengan memanfaatkan pemanasan biomassa dan limbah tanpa oksigen menggunakan katalis zeolit termodifikasi untuk menghasilkan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan.
“Zeolit dipilih karena memiliki luas permukaan tinggi, porositas baik, serta sifat keasaman yang dapat disesuaikan,” ujarnya Didi Dwi Anggoro, dikutip dari laman BRIN, Rabu, 27 Mei, 2026.
Dalam riset teknologi pirolisis katalitik ini, tim memanfaatkan abu sekam padi sebagai sumber silika dan tawas sebagai sumber aluminium untuk menghasilkan zeolit sintetis. Dua jenis zeolit yang berhasil dikembangkan adalah Zeolit Y dan ZSM-5, keduanya dikenal memiliki performa katalitik yang unggul dalam proses konversi limbah.
Didi menjelaskan bahwa karakteristik keasaman katalis memegang peran krusial dalam menentukan kualitas bahan bakar yang dihasilkan. Melalui pengaturan Brønsted acid site dan ukuran pori katalis, tim berhasil mengarahkan proses pirolisis untuk menghasilkan fraksi bensin dengan angka oktan tinggi.
Hasil pengujian membuktikan bahwa bahan bakar dari konversi limbah plastik lewat teknologi pirolisis katalitik ini mampu mencapai angka oktan hingga 96. Produk tersebut diberi nama Deepo Fuel dan telah diuji coba pada berbagai aplikasi, mulai dari mesin pemotong rumput hingga kendaraan operasional.
Capaian itu bukan sekadar prestasi laboratorium, melainkan langkah konkret menuju industrialisasi energi berbasis limbah. Pengembangan teknologi pirolisis katalitik ini kini diarahkan ke skala industri guna mendukung pengelolaan limbah sekaligus penyediaan energi alternatif yang berkelanjutan.
Kepala Pusat Riset Katalisis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Al Muttaqii, menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi untuk mendorong riset katalisis yang aplikatif dan berdampak luas. Ia menilai sinergi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri menjadi kunci agar inovasi seperti teknologi pirolisis katalitik ini tidak berhenti di tataran akademis, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.









