Orang Terkaya RI Sekolahkan Pedagang Asongan Sampai Jadi Dokter

Rabu, 29 Januari 2014 11:29

BERTUAHPOS.COM Jakarta –Salah satu orang terkaya di Indonesia, Tahir, dikenal sebagai orang kaya yang dermawan. Dia memiliki yayasan yang bernama Tahir Foundation. Salah satu bentuk kedermawanan dia adalah membiayai hidup seorang tukang susu hingga menjadi seorang dokter.

Ceritanya berawal saat Tahir bertemu seorang kakak beradik yang berjualan susu di kawasan Green Garden, Jakarta Barat. Pedagang susu tersebut menurut Tahir adalah pedagang yang jujur dan tidak pernah mengemis-ngemis.

Menantu dari Mochtar Riady ini mengisahkan, saat itu ada seorang pembeli yang merasa iba dan memberikan uang Rp 10.000 kepada kakak beradik tersebut. Padahal harga susunya hanya Rp 500/bungkus.

Si pembeli ingin memberikan semua uangnya untuk sebungkus susu seharga Rp 500 itu. Namun si anak menolak dan mengaku kalau mereka berjualan bukan mengemis. Itu yang mengetuk hati seorang Tahir untuk membantu mereka.

Baca: Perempuan dan Anak Selalu Terkena Dampak Pertama di Setiap Kebijakan Pemerintah

“Cerita ini yang menginspirasi saya. Something special nih. Saya inget saya punya anak laki-laki satu yang lahirnya di istana dia tidak pernah mengenal dunia nyata. Ini kesempatan saya untuk bantu,” kata pendiri Mayapada Group ini saat berkunjung ke kantor detikcom di Jakarta, Selasa (28/1/2014).

Tahir langsung mencari-cari alamat mereka. Dengan bantuan staff-nya, Tahir akhirnya tahu di mana mereka tinggal. Di sebuah perkampungan yang tidak disebutkannya, anak-anak tersebut hidup 4 bersaudara dengan orang tuanya. Sang bapak tidak bekerja karena mengalami kecelakaan dan mengalami benturan di kepala.

Singkat cerita, Tahir ingin membantu keluarga tersebut.”Saya tanya kamu biaya keluarga berapa dia bilang Rp 700 ribu. Saya kasih Rp 700 ribu, tapi syaratnya anaknya nggak boleh jualan lagi. Kerja sama saya anaknya. Pagi sekolah siang kerja sama saya. Saya punya cabang di Mayapada. Kebetulan anak perempuan saya masih jadi manager di sana,” kisah Tahir.

Kedua kakak beradik tersebut akhirnya bekerja di Mayapada hingga beranjak dewasa, sambil meneruskan sekolahnya. Setelah lulus sekolah, keduanya diterima di salah satu perguruan tinggi Universitas Kristen Kridawacana (Unkrida). Salah satu dari mereka diterima di Fakultas Kedokteran di kampus itu.

Mereka kembali mendatangi Tahir dan mengatakan bahwa biaya masuk kuliahnya mencapai Rp 120 juta. Tahir sempat berargumen dengan sang istri pada saat ingin memberikan uang sebesar itu.

“Saya bilang istri saya, dia bilang gini ‘nanti biaya sekolahnya juga mahal, buku kedokteran juga mahal’. Saya bilang gini, aduh waktu kecil saya pengen jadi dokter tapi nggak kesampaian, sekarang ini saatnya,” tambahnya.

Akhirnya, Tahir memutuskan untuk membantu mereka. Tahir langsung datang menemui rektor universitas tersebut dan meminta keringanan biaya. Akhirnya, biaya yang harus dikeluarkan Tahir hanya Rp 100 juta.

Setelah dibantu biaya masuk perkuliahan, anak-anak tersebut tidak pernah lagi meminta sepeserpun kepada pria berumur 61 tahun ini. Hingga pada akhirnya, salah satu dari mereka datang dan mengabarkan kalau dirinya sudah lulus kuliah kedokteran.

“Satu lulus dan praktek. Filosofi saya, itu adalah berkah yang di atas, sehingga saya bisa mengambil bagian dalam kebaikan,” kisah Tahir (detikFinance.com).