BERTUAHPOS.COM — Calon atlet bulu tangkis muda biasanya akan menghadapi tantangan mental serius selama masa karantina Audisi Umum PB Djarum. Rasa minder dan kurangnya kemandirian menjadi dua kendala paling dominan ditemukan, yang menghambat perkembangan teknik di lapangan.
Coach sektor tunggal putri U-17 dan U-19 di audisi umum PB Djarum 2026 Maria Kristin, mengamati langsung pola ini selama sesi seleksi berlangsung. Dia menilai pembentukan jati diri atlet sejak dini akan sangat berpengaruh terhadap konsistensi latihan, untuk pengembangan kualitas di masa akan datang.
“Kebanyakan masalah atlet putri adalah minder dengan sesama. Kalau jati dirinya sudah terbentuk, itu akan berpengaruh positif pada latihannya,” ujar Maria Kristin kepada Bertuahpos, di GOR Angkasa, Sabtu, 7 Juli 2026.
Maria menekankan bahwa membangun pemahaman kepada anak bukan perkara mudah. Proses panjang ini membutuhkan pendekatan yang tepat dari orang tua.
Keterbukaan antara orang tua dan pelatih menjadi faktor penentu keberhasilan program latihan. Dia kerap menemui kasus atlet yang baru dua pekan karantina sudah ingin pulang.
“Kadang ada anak yang baru dua minggu di karantina sudah pengen pulang. Akhirnya kami tidak bisa melatih sesuai program, jadi tolong didorong disiplin dan kemandiriannya karena masa karantina itu serba sendiri,” tuturnya.
Dari sisi teknis, Maria menyoroti pentingnya pegangan raket yang benar sejak awal. Kesalahan fundamental seperti itu akan menjadi kendala utama saat bertanding di level tinggi.
“Kalau dari dasar teknisnya sudah bagus, progres anak jadi lebih cepat karena kami tidak perlu mengulang lagi. Memang itu tidak gampang,” kata Maria.
Pelatih, juga dituntut lebih sabar dalam mengajarkan dan menjelaskan hal-hal teknis kepada atlet muda. Namun, di beberapa kasus justru menunjukkan orang tua yang kurang sabar dalam mendampingi proses latihan.
“Kesalahan dasar akan sangat mengganggu performa di level atas. Perubahan kebiasaan teknis yang sudah terbentuk sejak awal selalu membutuhkan waktu ekstra,” jelasnya.









