BERTUAHPOS — Mie Sagu Selat Panjang merupakan salah satu warisan kuliner khas Riau yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi. Hidangan ini berasal dari Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat setempat.
Terbuat dari tepung sagu yang kaya karbohidrat, mie ini sejak dulu menjadi sumber energi utama bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan pertanian. Keunikan mie sagu terletak pada bahan dasarnya yang berbeda dari mie pada umumnya.
Jika biasanya mie dibuat dari tepung terigu, maka mie sagu menggunakan tepung sagu yang diolah secara tradisional. Proses pengolahan ini tidak hanya mencerminkan keterampilan masyarakat lokal, tetapi juga menyimpan nilai-nilai warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Kini, mie sagu tidak hanya dapat dinikmati di Selat Panjang saja, tetapi juga telah menyebar ke kota-kota besar di Riau, salah satunya adalah Pekanbaru. Di kota ini, mie sagu menjadi menu yang cukup populer dan digemari oleh masyarakat urban yang ingin merasakan cita rasa otentik dari daerah pesisir.
Mie sagu khas Selat Panjang memiliki ciri khas tersendiri, yaitu disajikan dengan tambahan ikan bilis, tauge, dan potongan daun kucai. Kombinasi ini menciptakan sensasi rasa gurih dan segar yang sangat khas, menjadikan mie sagu tidak hanya lezat, tetapi juga sehat dan mengenyangkan.
Menurut Mardaleni, M.Pd, seorang dosen di Universitas Riau yang berasal dari Selat Panjang, mie sagu bukan hanya sekadar makanan. “Mie sagu adalah simbol ketahanan pangan dan kreativitas masyarakat Melayu dalam memanfaatkan sumber daya lokal. Sagu dulu menjadi alternatif utama saat beras sulit didapat, terutama di masa-masa sulit,” ujarnya saat dihubungi Bertuahpos pada Kamis, 15 Mei 2025.
Ia menambahkan bahwa keberadaan mie sagu menunjukkan bagaimana makanan tradisional bisa menjadi identitas dan kebanggaan daerah. “Setiap kali saya menikmati mie sagu, saya merasa pulang ke kampung halaman. Ada kenangan, ada sejarah, ada nilai budaya yang tak ternilai di dalam setiap suapan,” tutur Mardaleni.
Dari perspektif sejarah, menurut Mardaleni, mie sagu berkembang bersamaan dengan kehidupan masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada hasil laut dan tanaman lokal. Sagu menjadi pilihan karena mudah tumbuh di lahan gambut dan tahan lama, menjadikannya bahan makanan yang ideal untuk disimpan dalam jangka panjang.
Sebagai akademisi dan juga pelestari budaya, Mardaleni berharap generasi muda tidak melupakan makanan tradisional seperti mie sagu. “Modernisasi memang penting, tapi jangan sampai kita melupakan akar budaya kita sendiri. Mie sagu ini adalah salah satu bentuk warisan leluhur yang patut kita banggakan dan lestarikan,” katanya.
Dengan semakin dikenalnya mie sagu di luar Selat Panjang, termasuk di Pekanbaru, diharapkan hidangan ini bisa terus bertahan dan bahkan mendunia. Seperti kata Mardaleni, “Jika kita bangga dengan apa yang kita miliki, dunia pun akan menghargainya.”
***
– Habibie









