BERTUAHPOS — Aroma gurih menyeruak begitu hidangan ini tersaji di atas meja, di salah satu Hotel di Pekanbaru. Ini menjadi salah satu hidangan unggulan yang menemani rasa lapar saat berbuka puasa di hotel itu.
Potongan-potongan martabak mesir yang renyah tampak tertata rapi di atas nampan besar berwarna keemasan. Sungguh menggugah selera.
Lapisan kulit kecokelatan garing, bagian dalamnya dipenuhi daging cincang dengan berbumbu khas ala Timur Tengah.
Di bagian tengah, taburan irisan kol, wortel, dan daun hijau segar menambah kontras warna sekaligus memberi kesan segar pada hidangan yang kaya rasa ini.
Dari tampilannya saja, hidangan ini punya karakter kuliner yang kuat. Ia sederhana, namun penuh cita rasa.
Penyajiannya dalam porsi besar juga memberi kesan bahwa hidangan ini bukan sekadar makanan biasa, melainkan sajian yang sering dinikmati bersama.
Tidak heran jika kuliner ini terus digemari berbagai kalangan, dari penikmat jajanan kaki lima hingga pecinta hidangan khas Timur Tengah yang lebih modern.
Di Indonesia, martabak Mesir bukan sekadar jajanan malam yang mudah ditemukan di pinggir jalan. Ia adalah kuliner dengan perjalanan sejarah panjang. Melintasi budaya dan zaman, hingga akhirnya menjadi salah satu makanan paling digemari masyarakat Indonesia.
Tak banyak catatan pasti yang mengemukakan bagaimana asal usulnya. Hanya saja, hidangan ini dipercaya berakar dari makanan Timur Tengah dan India bernama mutabbaq, yang berarti “terlipat”.
Para pedagang Arab dan India-Muslim yang membawanya ke Indonesia, melalui jalur perdagangan rempah pada abad ke-19. Saat masuk ke Nusantara, khususnya wilayah pesisir Sumatra dan Jawa, resep martabak mesir mengalami adaptasi besar mengikuti selera lokal.
Para pedagang mulai memperkaya bumbu dengan rempah Nusantara, menambahkan kari yang lebih kuat, serta menggunakan daging cincang, telur, dan daun bawang sebagai isian utama.
Nama “martabak Mesir” sendiri muncul sebagai identitas dagang yang memberi kesan eksotis dan mudah diingat, meski versi Indonesia memiliki karakter rasa yang jauh lebih kaya dibandingkan versi aslinya di Timur Tengah.
Jika dahulu hanya dikenal dengan isian daging sapi dan kuah kari sederhana, kini inovasi muncul di berbagai daerah dengan varian rasa yang semakin kreatif, mulai dari martabak ayam pedas, kambing rempah, tambahan keju mozzarella, ukuran jumbo untuk keluarga, hingga versi sehat menggunakan kulit gandum.
Pelaku usaha kuliner bahkan menghadirkan konsep fusion dengan saus modern seperti blackpepper, sambal matah, hingga penggunaan bahan premium untuk menyasar pasar kelas menengah atas.
“Kalau di sini, sehari bisa habis 40 porsi,” kata Riani, seorang pedagang kuliner di kawasan Gobah, Pekanbaru, yang menjadikan martabak mesir sebagai salah satu daftar menu di gerai makanannya.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa martabak Mesir mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas utamanya sebagai makanan gurih berbumbu kuat yang mengenyangkan.
Keunikan lain dari martabak Mesir adalah kemampuannya menembus batas sosial ekonomi.
Di satu sisi, martabak tetap menjadi makanan rakyat yang terjangkau dan akrab bagi pekerja malam, mahasiswa, hingga keluarga yang mencari santapan praktis.
Gerobak martabak di sudut jalan menjadi bagian dari kehidupan kota-kota Indonesia, terutama saat malam hari.
Namun di sisi lain, martabak juga berhasil naik kelas dengan hadir di restoran modern dan kafe kekinian yang menawarkan penyajian lebih elegan, bahan berkualitas tinggi, serta konsep kuliner premium.
Fenomena ini menjadikan martabak Mesir sebagai kuliner demokratis yang dapat dinikmati semua kalangan, dari kelas bawah hingga kalangan atas, tanpa kehilangan daya tariknya.
Popularitas martabak Mesir semakin kuat di era digital ketika layanan pesan antar online dan media sosial mendorong pertumbuhan bisnis kuliner secara masif.
Kehadiran platform digital membuat banyak penjual martabak berkembang dari usaha kecil menjadi brand kuliner dengan pelanggan luas. Pada akhirnya, martabak Mesir tidak hanya bertahan sebagai makanan tradisional, tetapi juga bertransformasi menjadi bagian dari budaya kuliner urban Indonesia yang terus hidup dan berkembang mengikuti zaman.***
— Artikel ini kami rangkum dari berbagai sumber untuk menambah wawasan pembaca tentang kuliner khas nusantara.









