BERTUAHPOS — Di tengah kemeriahan perayaan Hari Raya Idulfitri di berbagai daerah Indonesia, Bali memiliki tradisi unik yang mencerminkan nilai kebersamaan lintas keyakinan.
Tradisi itu dikenal dengan sebutan Ngejot — sebuah kebiasaan turun-temurun berupa berbagi makanan kepada tetangga, kerabat, maupun warga sekitar.
Tradisi ini tidak memandang perbedaan agama, sehingga menjadi simbol nyata toleransi yang hidup di tengah masyarakat Pulau Dewata.
Ngejot secara harfiah dalam bahasa Bali berarti “memberi”. Namun dalam praktik sosialnya, tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih luas.
Ngejot menjadi cara masyarakat mengekspresikan rasa syukur sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga. Makanan yang dibagikan bukan sekadar hidangan, tetapi juga simbol persaudaraan.
“Ngejot adalah cara sederhana masyarakat Bali menjaga hubungan agar tetap hangat dan saling menghargai,” demikian pandangan yang berkembang di tengah masyarakat yang masih mempertahankan tradisi ini (Jurnal Manajemen STIE Muhammadiyah Palopo Vol. 8 No 1, 2022).
Tradisi Ngejot biasanya dilakukan saat momen-momen penting keagamaan. Menjelang Idulfitri atau Iduladha, umat Muslim di Bali membagikan hidangan khas Lebaran seperti opor ayam kepada tetangga Hindu.
Sebaliknya, saat umat Hindu merayakan hari raya seperti Galungan, Kuningan, atau Nyepi, mereka juga melakukan Ngejot dengan membagikan makanan tradisional seperti lawar atau urab kepada tetangga Muslim.
Bahkan di beberapa daerah, umat Kristen juga menjalankan tradisi serupa saat perayaan Natal.
Praktik saling berbagi ini paling terasa di wilayah pedesaan Bali, tempat masyarakat Hindu dan Muslim hidup berdampingan dalam hubungan sosial yang erat.
Warga Muslim di Bali sering disebut sebagai Nyame Selam, yang berarti saudara Muslim. Sebutan ini menunjukkan bahwa hubungan antarumat beragama di Bali tidak sekadar toleransi formal, melainkan hubungan persaudaraan yang sudah menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Secara historis, tradisi Ngejot berawal dari masyarakat Hindu Bali yang membagikan makanan kepada tetangga dan kerabat menjelang perayaan keagamaan seperti Nyepi, Galungan, dan Kuningan.
Seiring perjalanan waktu, tradisi ini berkembang dan diadopsi oleh masyarakat Muslim di Bali.
Proses tersebut menunjukkan adanya pembauran budaya yang kuat, dipengaruhi kehidupan sosial masyarakat yang telah hidup berdampingan selama berabad-abad.
Dalam praktiknya, makanan atau minuman yang dibagikan saat Ngejot disebut sebagai jotan. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum hari raya, bahkan bisa dimulai sekitar satu minggu sebelumnya.
Menjelang Idulfitri, misalnya, masyarakat Muslim mengantarkan jotan kepada tetangga di sekitar rumah mereka. Kemudian tradisi tersebut akan dibalas oleh umat Hindu ketika hari raya mereka tiba, menciptakan siklus sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Ngejot juga tidak hanya dilakukan saat hari raya. Dalam beberapa kesempatan, tradisi ini hadir ketika masyarakat mengadakan hajatan keluarga atau acara adat tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa Ngejot bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bagian dari budaya sosial yang menjaga keseimbangan hubungan masyarakat.
Lebih dari sekadar berbagi makanan, Ngejot menjadi bentuk kearifan lokal yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Bali merawat harmoni di tengah keberagaman. Tradisi ini menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling berbagi kebahagiaan.
Dengan mempertahankan tradisi Ngejot, masyarakat Bali terus menunjukkan bahwa toleransi dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan bersama.***









