BERTUAHPOS — Disadari atau tidak, popularitas makanan tradisional kini mulai meredup. Bahkan, kian meredup di tengah semakin maraknya jajanan kekinian yang katanya “modern”, dan hampir tidak diminati oleh kawula muda masa kini.
Kegelisahan ini datang dari Mira. Dia adalah pemilik usaha jajanan kue tradisional di kawasan Bukit Barisan Pekanbaru. Kepada Bertuahpos, dia mengungkapkan kue-kue tradisional seperti lapis legit, kue talam, dan lemper mulai kalah saing dengan jajanan viral
“Sekarang anak-anak muda lebih suka makanan yang muncul di media sosial. Kue tradisional dibilang kampungan,” ujar Mira belum lama ini. Mira sudah 20 tahun membuka usaha itu dan mengaku omzetnya turun hingga 50 persen dalam beberapa tahun belakangan ini.
Dia menuturkan, bahwa penurunan minat terhadap makanan tradisional ini bukan tanpa dasar. Dari penelusuran Bertuahpos, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa remaja usia 12–22 tahun lebih menyukai makanan cepat saji dibandingkan makanan tradisional.
Hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi dan skor preferensi terhadap makanan modern lebih tinggi secara signifikan.
Penelitian tersebut menyoroti bahwa faktor visual, kemasan modern, dan pengaruh media sosial menjadi alasan utama mengapa remaja cenderung memilih makanan kekinian. Hal ini tentu berdampak pada eksistensi makanan tradisional yang lebih sederhana dari sisi tampilan dan promosi.
Sementara itu, bisnis Mira dihadapkan pada tantangan keterbatasan finansial untuk mempromosikan secara luas. “Saya juga nggak tahu cara bikin video atau jualan di online,” ungkapnya.
Di tengah keterbatasan promosi dan penetrasi media sosial, makanan tradisional semakin terpinggirkan. Sementara makanan kekinian dipopulerkan dengan strategi marketing yang agresif, termasuk endorsement dari influencer dan konten viral.
Menurut peneliti IPB, Diah Rachmawati pelestarian makanan tradisional perlu melibatkan edukasi dan inovasi. “Penting untuk mengenalkan nilai gizi dan budaya di balik makanan tradisional kepada generasi muda melalui cara-cara yang mereka pahami, seperti media sosial dan event kuliner,” tulis Diah dalam penelitiannya.***
– Habibie









