BERTUAHPOS – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Riau menggelar Workshop Optimasi News Video di Media Sosial di Hotel Grand Suka, Jalan Soekarno Hatta, Pekanbaru, Sabtu, 25 Oktober 2025. Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri utama, yakni Bayu Saputra Video Specialist Riau Pos, dan Afut Syafril Nusyirwan, Kepala Biro Riau Antaranews.com.
Ketua AMSI Riau, Firmanagus, mengatakan kegiatan ini digelar sebagai upaya membangun ekosistem media digital yang bertanggung jawab di tengah maraknya distorsi dan tsunami informasi di media sosial.
“Kami ingin membangun persamaan cara pandang agar media bisa beradaptasi dengan cepat. Ke depan, konten berita berbentuk gambar dan video akan semakin menarik perhatian publik,” ujarnya.
Menurut Firmanagus, setiap perusahaan pers mungkin memiliki kebijakan yang berbeda, namun standar platform digital bersifat sama. Karena itu, jurnalis perlu memahami distribusi informasi berbasis sosial media dan format audio visual yang kini menjadi konsumsi utama publik.
“Pers wajib memahami penyajian konten berita dalam bentuk video agar tidak tertinggal,” tegasnya.
Sementara itu, Afut Syafril Nusyirwan dalam materinya menegaskan bahwa informasi berbasis video jauh lebih diminati masyarakat.
“Ada 150 juta pengguna media sosial di Indonesia yang sudah terbiasa mengonsumsi video. Menonton video bukan hal mewah lagi, tapi bagian dari keseharian,” jelasnya.
Dia menambahkan, jurnalisme multimedia merupakan pendekatan holistik yang mengintegrasikan berbagai platform sosial media. Menurutnya, format berita visual seperti video, galeri foto, dan infografis dapat meningkatkan interaksi pembaca di ruang digital.
“News video adalah perpanjangan dari produk berita yang relevan dengan karakter konsumen informasi masa kini,” tambah Afut.
Sementara itu, Bayu Saputra mengatakan bahwa pergeseran perhatian audiens ke timeline media sosial adalah hal yang tak bisa diabaikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital saat ini.
Oleh karena itu, media harus mampu menonjolkan clipper atau potongan video yang menarik. “Sebanyak 89% bisnis kini menggunakan video sebagai alat pemasaran. Video terbukti meningkatkan pemahaman publik terhadap produk atau layanan,” katanya.
Bayu juga menekankan bahwa produksi news video tidak hanya soal mengunggah, tetapi mencakup seluruh proses mulai dari pengambilan gambar, penyuntingan, hingga penyesuaian format dengan karakter platform.
“Visual yang orisinal menjadi kunci utama karena itu yang pertama kali dilihat penonton,” tutupnya.***









