BERTUAHPOS.COM — Catatan sejarah 26 September 1997 — pesawat Garuda Indonesia GA152 rute Cengkareng–Polonia Medan jatuh dan terbakar hebat sesaat sebelum mendarat.
Tragedi memilukan itu setidaknya menewaskan seluruh penumpang berjumlah 234 orang itu. Peristiwa ini hingga kini tercatat sebagai salah satu tragedi penerbangan terparah dalam sejarah Indonesia.
Kronologi
Pesawat Airbus A300 B4 itu lepas landas dari Bandara Cengkareng, yang kini dikenal sebagai Bandara Soekarno-Hatta, pada pukul 11.30 WIB.
Pesawat itu dijadwalkan akan mendarat di Bandara Polonia Medan pukul 13.58 WIB. Penerbangan kala itu dikendalikan oleh kapten pilot Rahmo Wioga bersama copilot Sutomo.
Dari total 234 orang di dalam pesawat, tercatat 220 penumpang dewasa, dua anak-anak, dan 12 awak kabin, termasuk dua kru ekstra yakni pilot Sumali dan copilot Tahta Yuwali.
Seluruh penumpang dan awak dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.
Menurut keterangan Direktur Utama Garuda Indonesia saat itu, Supandi, pilot sempat melakukan kontak terakhir dengan petugas bandara sekitar pukul 13.01 WIB.
Pesawat kala itu masih terdeteksi mengarah ke Bandara Polonia, namun tak lama kemudian keberadaannya lenyap dari pantauan.
Pesawat akhirnya ditemukan jatuh sekitar 30 kilometer dari Bandara Polonia, tepatnya di Desa Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Lokasi jatuhnya pesawat berada di tanah datar yang sedikit berbukit dan berdekatan dengan permukiman warga.
Proses evakuasi korban sempat mengalami kendala berat karena lokasi reruntuhan pesawat berada di jurang sedalam 400 meter dan berjarak sekitar 3 kilometer dari ruas jalan utama Medan–Berastagi.
Tim SAR dari ABRI bersama warga setempat harus bahu-membahu mengumpulkan jenazah penumpang yang sebagian besar sudah sulit dikenali, sementara badan pesawat sendiri hancur berkeping-keping dan tidak lagi utuh.
Hasil penyelidikan resmi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap bahwa penyebab utama kecelakaan adalah kombinasi kesalahan pilot dan kesalahan Air Traffic Control (ATC).
Kebingungan mengenai arah belokan saat proses vektor radar membuat awak pesawat kehilangan kesadaran situasional dan menurunkan ketinggian pesawat di bawah batas yang diizinkan.
KNKT juga mencatat sejumlah faktor penyerta yang memperparah kecelakaan, yakni kabut asap dari kebakaran hutan yang mengurangi jarak pandang operasional, serta tidak berfungsinya perangkat ground proximity warning system (GPWS) pada pesawat yang seharusnya memberi peringatan dini kepada awak sebelum benturan dengan medan terjadi.
Dilansir dari Historia.id, hasil transkrip komunikasi terakhir yang dipublikasikan ke publik, seperti dikutip dari aviation-safety.net, ditengarai terjadi kesalahmengertian komunikasi dengan menara ATC sebelum GA 152 hilang kontak:
- ATC: GIA 152, turn right heading 046, report established on localizer.
- GIA 152: Turn right heading 040, GIA 152, check established.
- ATC: Turning right sir.
- GIA 152: Roger, 152.
- ATC: 152, confirm you′re making turning left now?
- GIA 152: We are turning right now.
- ATC: 152 OK, you continue turning left now.
- GIA 152: A…. confirm turning left? We are starting turning right now.
- ATC: OK…. OK.
- ATC: GIA 152 continue turn right heading 015.
- GIA 152: Aaaaaa. Allahu Akbar!









