Cara Mencegah LGBT Sejak Dini Pada Anak

Kamis, 25 Februari 2016 12:38

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU – Maraknya persoalan LGBT yang menyerang anak anak  dan remaja tentu memberikan kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua. Sehingga menurut dokter psikologi anak, dr Miftahul Hayati M Psi Psikologi (Psikolog anak Rs Awal Bros Pekanbaru), mengatakan pencegahan sejak dini sangat perlu dilakukan bagi para orangtua, agar terhindar dari faktor psikoseksual yang menjadi salah satu faktor anak menjadi penyuka sesama jenis.

Hal yang dapat dilakukan orangtua bisa dimulai dari pola asuh orangtua terhadap anak anak mulai dari balita hingga anak anak masuk masa remaja.

Anak usia 2-4 Tahun.
Pada Fase ini merupakan fase dasar pembentukan karakter pada anak. Biasanya di dalam Islam sudah diajarkan agar anak anak di rawat dengan kasih sayang secukupnya (tidak berlebihan) dan dengan role model yang jelas. Artinya tidak lebih dan tidak kurang (seimbang).

“Sejak lahir seorang anak sudah memiliki dua sisi maskulin dan feminim sehingga peran orang tua dalam pembentukan karakter anak sangat penting, fase ini juga termasuk dalam fase kritis,” sebutnya

Baca: Inilah Tanaman Kaya Oksigen yang Perlu Ada di Rumah Anda

Pada usia 2-4 tahun secara alami anak mulai memahami perempuan dan laki laki,  dimana diperlukan role model atau figur yang dapat dia (anak) contoh. misalnya jika dia selalu melihat seorang berkata kasar dan pemukul, maka seorang anak dapat mengartikan bahwa laki laki itu jahat.

1. Selanjutnya anak cenderung akan lebih dekat ke pada ibu atau sosok wanita yang punya sisi kelembutan. Tidak terkecuali anak perempuan ataupun laki laki. Begitu pula sebaliknya. Jika seorang ibu selalu lebih dominan dari ayah, maka anak cenderung lebih dekat pada sosok ayah.

Sehingga memang benar benar diperlukan pola asuh yang seimbang diantara keduanya.

2. Berikan pemahaman pendidikan seks yang benar, seperti pengenalan organ intim dan bagian bagian sensitif yang tidak boleh di sentuh orang lain selain dirinya dan orang tua. Bahkan orang tua pun harus meminta izinnya terlebih dahulu.

3. Ajarkan anak untuk menepati janji di mulai pada diri orang tua dan berikan waktu kapan anak mempunyai kesempatan bicara, kapan anak punya kesempatan buang air, termasuk mengontrol keinginan anak.

Usia 6-10 tahun (masa penguatan)
1.   Jangan ajarkan anak mempermainkan organ organ pribadi, misalnya mencubit organ intim balita karena lucu, atau mencium bibir anak karena gemas.

2. Perhatikan hobi anak, jika seorang anak laki laki suka bermain masak masakan, pastikan peran yang diambilnya dari permainan tersebut, menjadi koko atau cenderung melayani. Begitu pula anak perempuan jika memiliki hobi bermain mobil mobilan  pastikan peran apa yang diambil dari permainan tersebut. Dari peran tersebut anda dapat melihat karakter anak.

3. Jangan sampai seorang anak melihat adegan seks orang tua mereka sendiri.

4. Jangan memperkuat karakter anak yang salah, misalnya mengatakan tindakan anak yang salah dan mengatakan “kamu bodoh” atau “kamu kayak banci cengeng” dan kata kata jelek lainnya.

5. Ajarkan landasan agama yang benar pada anak.

6. Berikan keadilan dan kesempatan anak menerima curahan hati anda, agar anak merasa punya peran dalam keluarga.
 
Usia 11-14 tahun

1. Hati hati memberi bacaan atau film pada anak. Berikan tontonan atau bacaan dengan alur cerita yang membangun karakter anak.

2. Proteksi akun sosial media anak, orang tua harus tau user dan pasword sosial media anak.

3. Perhatikan pergaulan anak anak terhadap lingkungannya.

Sedangkan pemicu yang dapat menyebabkan anak bisa menjadi penyuka sesama jenis bisa jadi penguatan anak yang sudah berbelom seperti pelecehan seksual, bully, pola pengasuhan anak yang salah. Kebanyakan perlakuan ini terjadi di usia balita ke atas.

Penulis : Nova