PERSIS di samping pintu dapur, sebuah panci ukuran sedang masih bertengger di atas tungku kompor. Ada minyak sisa penggorengan di dalamnya. Serbuk terigu berserakan di lantai acian yang sudah retak di mana-mana. Kursi plastik hijau dan perkakas rumah tangga lain, tergeletak tidak pada tempatnya.
Dapur milik Sugiyem berantakan sekali saat saya mengunjungi rumah itu, Rabu, 3 September 2025, di Gang 2000, Jalan Amirudin, Kelurahan Pangkalan Kerinci Timur, Pelalawan, Riau. Aroma khas dapur seperti di desa-desa menyeruak, jadi penanda bahwa di sini bukan hanya sekedar tempat memasak. Tapi, lebih dari itu.
Di sana, seorang wanita muda tengah sibuk dengan mesin penggiling adonan. Sesekali, tangkai besi (crank) diputar dengan tangan kanannya. Tangan kirinya menengadah, menunggu adonan pipih keluar dari celah besi di mesin ampia.
Sugiyem dan anaknya belum selesai bikin keripik bawang. Tapi, azan zuhur sudah berkumandang. Dia bergegas pakai mukena. Menunaikan ibadahnya. Pemandangan ini membuat saya, sejenak, terbayang kampung halaman. Sudah lama saya tak pulang.
Jika naik kendaraan roda empat dari Kota Pekanbaru, butuh waktu satu setengah jam untuk tiba ke rumah Sugiyem. Selain difungsikan sebagai tempat tinggal, pasanggrahan sederhana ini jadi tempat produksi beberapa jenis camilan tradisional. Usaha mikro itu sudah digeluti Sugiyem lebih dari 10 tahun silam. Hanya itu satu-satunya sumber penghasilannya saat ini.
“Awalnya saya bikin keripik pisang. Itupun cuma beberapa bungkus, dititip ke warung tetangga,” kata ibu enam anak itu. Dia pun tak pernah menyangka kalau permintaan pasar terus meningkat seiring waktu berjalan.
Dibantu anak perempuannya, kini Sugiyem memproduksi produk cemilan lain; keripik bawang, peyek, telur asin dan kacang tojin. “Untuk tambah-tambahan saja,” ujarnya.
Namun, Sugiyem jadi mikir dua kali karena biaya produksinya cukup tinggi. Dulu, dia pernah pakai Liquefied Petroleum Gas (LPG). Satu tabung gas melon hanya bertahan tiga hari. Lebih kurang butuh 10 tabung sebulan.
Karena hitung-hitungannya belum masuk, dia pindah ke LPG 12 kilogram. Perlu dua tabung sebulan, dan harus merogoh kocek hingga Rp400 ribuan. “Itu baru untuk gas,” katanya. Belum termasuk modal lain seperti; tepung, minyak goreng, dan bahan-bahan pendukung lainnya.

Lagipula, Sugiyem mengaku pakai gas tabung tak selalu sesuai harapan. Misal, saat menggoreng, tiba-tiba habis. Stok di rumah kosong. Dia harus cari orang untuk diminta tolong beli gas. Kadang di warung tak selalu ada. “Muter-muter dulu,” tambahnya, dan hal seperti itu sering terjadi.
“Anggaplah, gas-nya dapet. Terus yang pasangin siapa? Saya nggak bisa kalau anak yang laki-laki nggak di rumah. Sementara adonan belum selesai digoreng. Ditunggu sampai sore, ya rusak lah,” ujarnya.
Sekitar tahun 2023, Program Jaringan Gas (Jargas) rumah tangga — yang digagas pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) — masuk ke lingkungan tempat tinggal Sugiyem. Dia langsung mendaftar lewat kelurahan setempat. Waktu itu, Sugiyem belum ada gambaran bagaimana sistem Jargas bekerja. Tapi, ya sudah. Percaya saja.
Tak butuh waktu lama setelah mendaftar, teknisi dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk Area Pekanbaru langsung pasang instalasi ke dapur rumahnya. Sejak itulah, dia menggantungkan kebutuhan dapur dan usahanya kecilnya itu, pada Jargas.
“Sekarang, untuk kebutuhan produksi, masak sehari-hari, semuanya pakai gas PGN. Sekarang udah nggak perlu cemas gas tiba-tiba habis,” ujar wanita 63 tahun itu.
Keuntungan lain menggunakan Jargas, biaya produksi per bulan bisa ditekan. Rata-rata sekitar Rp280 ribu sebulan. Selain lebih irit, pakai gas bumi tak rumit dan lebih nyaman. Sugiyem tak lagi bingung jika mendadak kehabisan gas, tak perlu cari orang untuk ganti regulator. Kapan pun tinggal “cetek”, kompor pun menyala.
Harus diakui, hadirnya Jargas di Pelalawan telah mengubah tren konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan energi rumah tangga. Mereka yang selama ini bergantung pada gas tabung, pelan-pelan mulai bisa lepas dari “pasung” itu.
Ini bukan hanya soal kelangkaan, isu banyaknya musibah kebakaran yang disebabkan oleh gas tabung tabung hijau mini, sering bikin para istri bergidik ngeri. Mereka jadi tidak mandiri, dan sering bikin repot para suami.
Setidaknya itulah yang rasakan Yusrizal, warga di Gang Belimbing, Jalan Pepaya, Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota, Kecamatan Pangkalan Kerinci, saat kami berbincang di teras rumahnya, di hari yang sama.
Menurutnya, takut mengganti regulator gas tabung telah menjadi masalah umum. Bahkan hal itu dialami oleh sebagian besar para istri di luar sana. Terdengar sepele, memang. Tapi, sebagai pekerja lapangan, dia mengaku cukup terganggu dengan panggilan-panggilan seperti itu.
“Kadang tengah kerja, saya ditelpon orang rumah untuk pulang. Itu pun cuma untuk ganti tabung gas. Kan, kerja kita jadi terganggu,” ujarnya.
Setelah lebih dari setahun menggunakan Jargas PGN, Yusrizal dan keluarganya merasa lebih lega, karena tak perlu lagi gonta-ganti tabung. Paling tidak, dia bisa fokus saat bekerja tanpa ada panggilan mendesak dari “ibu negara”.
“Sekarang gas tersedia 24 jam. Kalau untuk tagihan bulan masih terjangkau lah. Saya pakai Jargas yang khusus untuk rumah tangga. Rata-rata per bulan di bawah Rp50 ribu,” katanya.

Apakah Pelalawan Kaya dengan Gas Bumi?
Dilintasi garis khatulistiwa, membuat tanah Pelalawan subur. Di atasnya berlimpah kelapa sawit dan hutan akasia (bahan baku CPO dan pulp and paper). Rimbanya masih lebat, menjadi surga bagi satwa liar sebagai habitat. Sektor pertanian, perikanan dan kelautannya pun, masih sangat kuat.
Di perut buminya mengandung minyak dan gas — menjadi warisan untuk generasi masa depan yang seolah tanpa batas. Menurut data historis Pemda setempat, produksi gas bumi di Pelalawan mencapai 5.716,76 kaki kubik (MSCF) pada 2012.
Penemuan terbaru sekitar Maret 2024, oleh PT Energi Mega Persada (EMP) Tbk, mengungkap kandungan gas di sumur eksplorasi Central East Napuh-01 (CEN-01) diperkiraan mencapai 126 miliar kaki kubik (BCF), di kedalaman 2,093 ft.
Sumber energi itu tersembunyi di beberapa lapisan reservoir dengan ketebalan hingga 57 ft. Gas ini lah yang dimanfaatkan PGN untuk dialirkan ke dapur-dapur rumah warga — lewat program Jargas.
Pelalawan itu unik. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa kabupaten ini masuk dalam Cekungan Sumatra Tengah. Para ahli geologi menyebutnya “Cekungan Belakang Busur”. Bentuknya segitiga bersudut. Seperti karet busur panah saat ditarik.Ada proses geologi yang membentuknya. Lempeng tektonik lebih padat (Indo-Australia) dari samudra, bergerak, lalu menghujam ke bawah lempeng Eurasia — ke dalam mantel bumi. Proses ini disebut subduksi lempeng. Terjadinya di batas lempeng konvergen. Bentuknya seperti palung.
“…dan cekungan ini, sebagai penghasil hidrokarbon di kawasan barat Indonesia,” tulis Moh. Heri Hermiyanto Zajuli, dkk, dalam jurnal berjudul: Analisis Geokimia Batuan Induk dan Sejarah Pemendaman Cekungan Sumatra Tengah Daerah Indragiri Hulu dan Pelalawan, Provinsi Riau, yang diterbitkan oleh Journal of Geology and Mineral Resources, pada Mei 2024.
Dari sudut pandang kimia, hidrokarbon itu seperti senyawa. Di dalamnya ada kandungan atom karbon dan hidrogen. Bentuknya bisa cair, padat, atau gas, tergantung ukuran dan strukturnya. Jika lebih ringan, seperti; metana dan propana, dia berwujud gas pada suhu dan tekanan standar. Kalau hidrokarbon itu lebih berat, bisa berupa cairan seperti; heksana. Bisa juga berupa padatan seperti; lilin parafin.
Jujur, penjelasan teknis seperti ini membuat saya agak bingung, dan memang sulit dipahami awam. Tapi, apapun lah itu, dan bagaimanapun prosesnya, begitulah cara alam bekerja. Satu hal yang pasti, bahwa Pelalawan hanya satu dari 12 kabupaten/kota di Riau yang kaya dengan sumber daya alamnya.
Bagaimana Gas Itu Mengalir ke Dapur Warga?
Menjelang siang, sebelum mampir ke rumah Sugiyem, saya diajak berkunjung ke Metering Regulating Station (MRS). Lokasinya di tengah pemukiman warga. Persisnya di Jalan Pulau Payung, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Riau.
Tempat ini tak begitu besar. Dipagari kawat besi dan tertutup rapat. Karena ini objek vital nasional, tentu tak sembarang orang bisa mengakses. “Ada SOP-nya,” kata Riza Fahri, salah seorang teknisi PGN Area Pekanbaru yang mendampingi saya saat itu.
Di dalam pagar kawat ini terdapat beberapa kotak besi hijau memanjang. Ada banyak pipa kuning dan silver di dalamnya, meliuk tak beraturan — namun saling terangkai satu sama lain. Di beberapa badan pipa terpasang alat khusus. Fungsinya untuk mengukur tekanan, volume, dan lain-lain.
Persis di sebelah MRS, ada stasiun gas bumi (offtake station) milik PT EMP Bentu. Ukuran lokasinya jauh lebih besar. Dari sinilah sumber utama gas alam itu. Serah-terima suplai gas dari sumur milik EMP Bentu ke MRS PGN, menjadikan tempat ini sangat krusial.
Gas yang diterima dari sumber utama, dialirkan lewat pipa transmisi ke MRS. Tekanannya sebesar 50 Bar. “Saat di MRS, diturunkan jadi 4 bar,” ujarnya.
Secara umum, tekanan gas itu ada tiga tingkatan, yakni; tekanan tinggi saat gas melewati pipa transmisi, tekanan menengah saat gas melintasi pipa distribusi, dan tekanan rendah saat gas melewati pipa dinas menuju ke sambungan rumah tangga dan sambungan kompor.

Saat masih di MRS, gas disuntik dengan zat kimia mercaptan agar berbau. Jenis odorant yang dipakai PGN; Tetra Hydro Thiophene (THT). Zat ini dipilih karena baunya kuat. Fungsinya sebagai alarm agar mudah terdeteksi jika terjadi kebocoran.
“Jadi, secara alamiah gas bumi itu tidak berbau,” kata Riza. “Odoran sengaja di-injeksikan supaya baunya khas, agar masyarakat lebih mudah menyadari kalau ada kebocoran. Ini salah satu upaya pencegahan. Misalnya, mereka dapat menjauh dari area yang bocor.”
Peran lain dari MRS, memastikan tekanan gas yang sampai ke masyarakat aman. Ada standar ketentuannya. MRS juga dapat mengukur dan mencatat jumlah gas yang dikonsumsi rumah tangga. Gunanya untuk keperluan penagihan.
Tahap selanjutnya, gas itu dialirkan melalui pipa besi di bawah tanah ke Regulating Station (RS), kemudian didistribusikan ke pipa dinas dengan tekanan rendah, sebelum benar-benar mengalir ke kompor rumah warga. “RS itu—kalau di listrik—fungsinya seperti trafo,” kata Area Head PT PGN Tbk Area Pekanbaru, Charly Simanullang.
Untuk memenuhi kebutuhan gas lebih dari 3.000 pelanggan rumah tangga, dibutuhkan empat unit RS. Satu unitnya dapat mengakomodir sekitar 600 rumah. “Idealnya begitu. Kalau semakin banyak, nanti rumah yang paling ujung, malah nggak dapat gas,” jelasnya.
Proyek Jargas di Pelalawan sudah dimulai sejak 2022 silam. Tersebar di Kecamatan Kerinci Timur, khususnya di Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota dan Pangkalan Kerinci Timur.
Penikmatnya adalah pelanggan rumah tangga dan usaha mikro. Volumenya empat hingga 50 meter kubik per bulan. Rata-rata pemakaian pelanggan di area Pelalawan sebesar 10 hingga 20 meter setiap bulannya.
Hingga kini, total ada 3.963 rumah tangga di Kabupaten Pelalawan sebagai penerima manfaat. Gas bumi itu, dipakai untuk kebutuhan memasak sehari-hari, untuk menunjang usaha kecil seperti Sugiyem. Bahkan, kebutuhan gas di Pekanbaru dan Dumai, juga dialirkan dari Kabupaten Pelalawan.
Edukasi ke Masyarakat
Meski program Jargas sudah berjalan hampir tiga tahun, keluhan dari pelanggan selalu ada. Misal, api kompor yang dihasilkan dianggap tak sepanas LPG. “Mereka (warga) menganggap masak air jadi lebih lama,” ujar Charly.
Secara teknis, hal itu ditentukan oleh bukaan penutup aliran bahan bakar (spuyer) untuk menentukan besaran volume gas yang keluar dari lubang (knop) kompor. Semakin besar spuyer dibuka, semakin banyak volume gas yang keluar dari knop, maka semakin besar pula api yang dihasilkan. Tentu, air yang ditanak akan lebih cepat masak.
Sama seperti menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Api akan lebih dominan menguasai hampir seluruh bagian panci. Area panci yang panas jadi lebih luas dan masakan lebih cepat matang. “Tapi, kayu bakar yang dibutuhkan tentu semakin banyak,” ujarnya.

Secara umum, LPG dan gas bumi itu berbeda. Meski sama-sama dari gas alam, LPG terdiri dari gas propana dan butana. Gas itu dicairkan dengan tekanan tinggi atau suhu rendah. Tujuannya agar mudah disimpan dalam ruang kecil.
Sedangkan gas bumi adalah gas metana. Dia bisa dialirkan langsung lewat pipa distribusi, dan langsung bisa dilarikan ke rumah tangga. Lagi pula, kata Charli, kalor yang dihasilkan LPG, memang sedikit lebih besar.
“Tapi, saat kami uji coba di lapangan, pakai gas bumi maupun LPG, waktu yang dibutuhkan untuk memasak air sama saja,” jelasnya.
Keluhan lain dari pelanggan, soal tagihan yang dianggap masih tinggi. Padahal jika dihitung-hitung selisihnya hanya sedikit, bahkan menggunakan Jargas lebih irit. Oleh sebab itu, PGN mengelompokkan masyarakat penerima manfaat menjadi dua bagian, yakni; RT1 dan RT2.
RT1 adalah kelompok penerima manfaat yang hanya menggunakan gas untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Sedangkan RT2, mereka pakai gas bumi untuk kebutuhan usaha. Jadi, beban tagihannya juga berbeda. Tapi tetap lebih irit jika dibanding dengan gas tabung.
Untuk RT1, tagihannya rata-rata di bawah Rp100 ribu. Sedangkan RT2 lebih dari Rp200. Tapi, tetap ada biaya pelanggan sebesar Rp30 ribu per bulannya. Artinya, kata Charli, jika dalam sebulan mereka tidak menggunakan gas bumi, beban pelanggan itulah yang mereka bayar.
Sejauh ini, PGN sadar bahwa masyarakat penerima manfaat masih butuh diedukasi. Dalam berbagai hal, bahkan. Misal; mereka harus apa, seandainya ada selang atau pipa gas di area rumah yang bocor.
Agar warga tidak bingung, setiap dinding di depan rumah pelanggan dipasang flyer kecil. Isinya, informasi singkat untuk mendeteksi kemungkinan bocor gas dan langkah-langkah yang harus dilakukan. Di flyer itu juga disertakan kontak darurat dan bisa dihubungi kapan saja.
Adapun edukasi lain yang dilakukan PGN saat ini, bagaimana masyarakat penerima manfaat lebih bijak dalam menggunakan gas untuk memasak. Termasuk memberikan pemahaman, bahwa penggunaan gas alam itu lebih ramah lingkungan daripada bahan bakar fosil.
“Ini menjadi tantangan kami ke depan. Sambil jalan, edukasi seperti ini tetap kami sampaikan,” katanya.
Targetkan 1.250 Rumah Tangga Baru
Tahun 2025, PGN Area Pekanbaru menargetkan sambungan Jargas ke 1.250 rumah tangga baru. Walaupun harus dibarengi dengan investasi yang tak sedikit untuk membangun jaringan pipa gas.
Selain itu, pemerintah daerah juga tengah berjuang untuk tambahan kuota masyarakat penerima manfaat. Khususnya di Kabupaten Pelalawan. Terlebih, PGN tidak membebani pelanggan dengan biaya instalasi untuk jarak sambungan 15 meter dari pipa utama ke dapur.
“Kalau lebih panjang, ada tambahan biaya sedikit, dan gratis untuk satu kompor. Pastinya, kami butuh dukungan. Saat ini, semuanya sedang dalam proses,” ujar Charly Simanullang.
Pelan tapi pasti, Jargas mulai diminati oleh calon-calon pelanggan kecil. Area perumahan yang sudah terpasang jaringan pipa gas, akan jadi prioritas. Di Oktober 2025 nanti, pemenang tender untuk proses konstruksi akan diumumkan. “Ini Jargas APBN. Pemerintah yang menunjuk kontraktor pemenagnya, melalui Kementerian ESDM,” ujarnya.
Sementara untuk kegiatan sosialisasi masih dilakukan dari mulut ke mulut, memanfaatkan sosial media dan website resmi PGN sebagai sarana penyebaran informasi dan promosi.
Namun, semua itu masih perlu penyesuaian. Sebab masyarakat di daerah tidak semua paham dengan alur pendaftaran pelanggan secara online, dan itu menjadi tantangan tersendiri, dalam pengabdian ini. “Termasuk untuk transaksi tagihan bulanan, kini sepenuhnya menggunakan digital,” ujar Charly.

Hingga kini, pipa-pipa Jargas PGN sudah terhubung ke 30 ribu rumah tangga penerima manfaat, meliputi Kota Pekanbaru, Dumai, Pelalawan dan Siak. Adapun pelanggan terbanyak ada di Pekanbaru dan Dumai. Totalnya sekitar 20 ribu rumah. Sisanya tersebar di Pelalawan dan Siak.
Bagi Pemda setempat, hadirnya Jargas berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi dan kebutuhan rumah tangga. Jika dulu warga sering mengeluh soal gas langka, kini, riak-riak seperti itu sudah tidak terdengar lagi. Terutama, di Kota Pangkalan Kerinci.
Program Jargas hanya satu dari upaya bersama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Paling tidak, warga sudah sangat dimudahkan dalam hal mengakses kebutuhan bahan bakar rumah tangga dan usaha mereka.
“Sekarang, para ibu-ibu tentu lebih mudah untuk mendapatkan bahan bakar untuk kebutuhan dapur, lebih efisien, murah dan ramah lingkungan,” ujar Bupati Pelalawan, Zukri Misran, dan harapan ini masih sama seperti awal Jargas ini diresmikan pada Desember 2022 lalu.
Kedepan, Zukri berharap jaringan pipa gas itu bisa mengalir lebih jauh, menjangkau setiap sudut kampung, sehingga menjadi harapan baru bagi masyarakat yang selama ini sulit untuk mengakses gas rumah tangga. “Program ini sekaligus mempertegas hadirnya negara hingga ke dapur rumah tangga kita,” katanya.
Terlepas dari semua itu, tak banyak yang tahu bahwa para perwira PGN masih harus mengetuk rumah warga dari pintu ke pintu. Di sana, mereka bercerita tentang kisah tetangga sebelah yang tak lagi cemas kehabisan gas. Mereka bertutur betapa nikmatnya menyalakan kompor sepanjang waktu. Mereka berkata: Ada gas dari bumi kita sendiri yang terus mengalir ke dapur, tanpa henti.
Lewat Jargas, ada harapan di masa depan, bahwa masyarakat akan lebih mudah mengakses energi untuk kebutuhan rumah tangganya sendiri. Tak lagi terbebani dengan kelangkaan LPG, tak ada lagi rasa gentar saat ganti regulator. “Mereka cukup fokus memasak atau mengembangkan usahanya,” harap Charly.
Alunan musik lawas “Hati yang Luka” — dipopulerkan oleh Betharia Sonatha versi karaoke — menggema di dalam mobil saat perjalanan pulang ke Pekanbaru. Lagu ini membuat saya kembali terngiang dengan masa-masa kecil dulu, saat masih di kampung halaman. Waktu itu, saya saat ikut lomba cerdas cermat tingkat sekolah dasar. Salah satu pertanyaan yang paling saya ingat, Apa bunyi Pasal 33 Undang-Undang Dasar Tahun 1945?
Jawabannya, tentu; Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Terbesit di benak saya, mungkinkah program Jargas — seperti di Pelalawan ini — yang dimaksud dalam UUD itu? Semoga saja.***









