BERTUAHPOS — Kawasan Asia dan Pasifik kini menjadi pusat perhatian dunia. Hal itu karena rivalitas kekuatan besar, transformasi ekonomi global, dan isu keamanan maritim saling berkelindan.
Menurut Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, Prof. Aleksius Jemadu, kebijakan luar negeri Indonesia tengah menghadapi kombinasi antara ketidakpastian global dan meningkatnya gejolak geopolitik.
“Keterlibatan Indonesia dalam forum BRICS tidak berarti meninggalkan ASEAN,” katanya dalam General Lecture bertema: Peluang dan Tantangan Dinamika Ekonomi dan Keamanan di Kawasan Asia dan Pasifik bagi Indonesia, sekaligus peluncuran buku: Pengantar Studi Hubungan Bilateral Tiongkok dengan Negara-negara di Asia dan Pasifik, belum lama ini.
Menurutnya, Indonesia akan tetap menjadikan ASEAN sebagai jangkar kebijakan luar negeri, sambil memperluas jejaring dengan kekuatan besar lainnya. “Tantangan bagi presiden kita adalah bagaimana menjaga keseimbangan diplomasi di tengah tekanan global,” ujar Prof. Aleksius.
Prof Aleksius juga menyoroti pergeseran sistem perdagangan internasional dari rule-based menuju deal-based, yang menuntut Indonesia memperkuat posisi tawarnya. Skspor Indonesia ke negara BRICS masih didominasi oleh Tiongkok, sementara Amerika Serikat tetap menjadi mitra penting.
Berdasarkan data Lowy Institute (2024), Tiongkok menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan porsi impor mencapai 24%, sedangkan Amerika Serikat sebesar 6,9%. Menurutnya, keseimbangan kerja sama ekonomi dengan kedua kekuatan tersebut harus dijaga agar Indonesia tidak bergantung pada satu pihak.
Selain itu, Prof. Aleksius menekankan pentingnya ketahanan pangan dan kemandirian nasional di tengah status Indonesia sebagai middle power. “Indonesia tidak boleh bergantung penuh pada negara lain untuk kebutuhan pangan. Kemandirian dan keberanian dalam diplomasi menjadi kunci posisi Indonesia di dunia yang semakin tidak pasti,” tegasnya.
Prof Anak Agung Banyu Perwita, Guru Besar Hubungan Internasional Unhan RI, melihat bahwa dimensi keamanan dan persaingan kekuatan di Asia Pasifik. Meningkatnya aktivitas Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan dan lonjakan belanja militer di kawasan menunjukkan intensitas kompetisi ekonomi-politik yang kian tajam.
“Asia Pasifik kini menjadi arena perebutan sumber daya strategis seperti nikel, batu bara, dan energi. Mahasiswa Hubungan Internasional harus peka membaca arah perubahan geopolitik ini,” ujar Prof. Banyu.
Menurutnya, Belt and Road Initiative (BRI) merupakan strategi besar Tiongkok dalam memenangkan great power competition, melalui tiga pilar utama; economic statecraft, diplomasi regional, dan modernisasi militer.
Berdasarkan analisis Lowy Institute, Tiongkok kini memiliki pengaruh dominan terhadap sebagian besar negara di Asia Pasifik, sedangkan Amerika Serikat hanya menjalin kedekatan kuat dengan tiga dari dua belas negara di kawasan tersebut.
Sebagai penutup, kegiatan ini juga menjadi ajang peluncuran buku karya Paramadina Asia and Pacific Institute (PAPI) berjudul: Pengantar Studi Hubungan Bilateral Tiongkok dengan Negara-negara di Asia dan Pasifik.
Buku yang disunting oleh Peni Hanggarini ini berisi analisis mendalam tentang hubungan luar negeri Tiongkok dengan berbagai negara di kawasan, dilengkapi studi kasus terkini dari dosen, mahasiswa, dan alumni Universitas Paramadina.***









