• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, Oktober 3, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Ekonom Kritik Usulan Pajak Air Permukaan Sawit Per Pohon

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
23 Februari 2026
Ekonom Kritik Usulan Pajak Air Permukaan Sawit Per Pohon

Kebun kelapa sawit | Foto: Ilustrasi.

182
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS – Ekonom Universitas Riau (Unri), Dr. Dahlan Tampubolon, SE, M.Si, melontarkan kritik usulan Pansus Optimalisasi Pendapatan Daerah DPRD Riau terkait Pajak Air Permukaan (PAP) perkebunan sawit berbasis jumlah pohon.

Dahlan menilai, usulan tersebut berpotensi menabrak Undang-Undang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah (UU HKPD).

Menurutnya, regulasi tersebut secara gamblang mengatur bahwa objek pajak adalah aktivitas pengambilan atau pemanfaatan air menggunakan alat teknik seperti pompa atau pipa, bukan proses biologis tanaman.

“Masak tanaman tumbuh secara alami mau ditarik pajak juga? Itu sudah melenceng dari definisi objek pajak yang sah. Bisa-bisa negara dianggap memajaki proses kehidupan, bukan aktivitas ekonomi,” tegas Dahlan seperti dilansir dari Sawit Indonesia, Senin, 23 Februari 2026.

Doktor lulusan Universitas Malaya ini menjelaskan, secara ilmiah sumber air kelapa sawit sangat beragam, termasuk air hujan. Tidak semua air diserap langsung dari sungai atau kanal yang menjadi ranah PAP. Ia juga memperingatkan adanya risiko diskriminasi horizontal jika kebijakan ini hanya menyasar sawit.

“Kalau cuma sawit yang kena sementara karet atau sagu tidak, itu namanya pilih kasih. Pajak sumber daya itu harusnya menyasar extraction yang terukur, bukan fenomena alam dalam ekosistem,” tambahnya.

Selain masalah hukum, Dahlan menyoroti kerumitan administrasi dalam mendata jutaan pohon secara akurat. Menurutnya, urusan tanam-tebang pohon sangat dinamis, sehingga pendataan manual hanya akan membuka ruang manipulasi data dan sengketa di lapangan.

Ia mengusulkan agar pemerintah lebih rasional dengan mengalihkan titik pajak ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

“Paling masuk akal itu titik pajaknya di PKS saja. Pasang meteran digital atau tapping box di pipa intake air mereka. Barangnya jelas, volumenya jelas, dan gampang diaudit. Jadi tidak ada lagi ruang ‘nego di bawah meja’,” paparnya.

Lebih lanjut, Dahlan khawatir skema pajak per pohon ini akan menjadi pajak ganda. Pengusaha saat ini sudah dibebani PBB-P3 untuk lahan mereka. Jika ditambah lagi dengan pajak berbasis jumlah pohon, hal ini akan menjadi disinsentif bagi industri sawit.

“Ini bukannya melestarikan air, malah merusak iklim investasi karena beban fiskal yang tumpang tindih dan tanpa dasar hukum kuat,” ketus Dahlan.

Sebagai solusi, Dahlan menyarankan Pemerintah Provinsi Riau segera memperbarui Nilai Perolehan Air (NPA) yang belum berubah sejak tahun 2012 agar lebih relevan dengan kondisi saat ini.

Ia menekankan pentingnya digitalisasi pengawasan dan transparansi penggunaan dana pajak untuk rehabilitasi lingkungan serta perbaikan infrastruktur jalan. “Biar nampak hasilnya di lapangan. Jangan cuma jago narik duit tapi tata kelola masih model lama. Gaspol di sistem, bukan di pohon,” ujarnya.***

Tags: Analisakelapa sawitRegional
Share4Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Harga TBS Swadaya di Riau Naik, Harga Tertingginya Segini. Harga CPO
Ekonomi

Harga TBS Kelapa Sawit Plasma di Riau Juga Turun, Cek Selengkapnya di Sini

...

Read moreDetails
Ekspor Nonmigas Riau Tumbuh 8,14 Persen. Harga TBS Sawit Riau

Harga TBS Sawit Riau Turun, Umur 9 Tahun Jadi Rp3.912,24 per Kg

Jikalahari Kritik Kunjungan Perdana Prabowo ke Riau, Dinilai Cuma Pindah Lokasi Rapat

Jikalahari Kritik Kunjungan Perdana Prabowo ke Riau, Dinilai Cuma Pindah Lokasi Rapat

Plt Gubri Sebut Sumbang Rp1 Miliar untuk Bencana Gempa NTT Bukan soal Nominal Angkanya

Plt Gubri Sebut Sumbang Rp1 Miliar untuk Bencana Gempa NTT Bukan soal Nominal Angkanya

Polusi Akibat Karhutla Riau, Status Udara di Pekanbaru Berbahaya

Polusi Akibat Karhutla Riau, Status Udara di Pekanbaru Berbahaya

Alam Cahayo Tuah Nagoghi Tuntaskan Perjalanan dengan Gelar Juara di Tepian Narosa

Alam Cahayo Tuah Nagoghi Tuntaskan Perjalanan dengan Gelar Juara di Tepian Narosa

Next Post
Pemerintah Impor 580 Ribu Indukan Ayam dari AS, Bagaimana Nasib Peternak?

Pemerintah Impor 580 Ribu Indukan Ayam dari AS, Bagaimana Nasib Peternak?

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.