BERTUAHPOS.COM — BCS World of Investment percaya harga emas dunai mungkin akan menembus US$5.000 per ons sebelum akhir tahun 2026. Permintaan kuat dari bank sentral dan ETF emas menjadi pendorong utama kenaikan tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Analis BCS World of Investment Lyudmila Rokotyanskaya. Dikutip dari Vietnam.vn, Minggu, 23 Agustus 2026, dia melihat konflik AS dan Iran telah memicu kenaikan harga minyak dan semakin memberikan tekanan terhadap inflasi.
Atas dasar ketidakpastian geopolitik itu lah semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset yang dianggap jauh lebih aman untuk menyimpan kekayaan.
“Dari segi sejarah harga emas cenderung meningkat ketika risiko inflasi mata uang cadangan naik. Penjualan obligasi Treasury AS juga memicu kekhawatiran stabilitas pasar utang,” katanya.
Secara teknikal, harga emas berhasil bertahan di atas rata-rata bergerak 200 hari. Sejumlah level resisten horizontal penting juga telah berhasil ditembus.
Dia mengatakan, harga emas dapat melanjutkan tren kenaikan menuju kisaran US$4.700 sampai US$5.000 per ons. “Pergerakan teknikal itu menopang prospek bullish jangka menengah,” kata Rokotyanskaya.
Senada dengan itu, Kepala Analisis Pasar Ekuitas Alfa-Bank Boris Krasnozhenov juga memproyeksikan harga emas dunia bisa tembus di level US$4.900 hingga US$5.000 per ons sebelum akhir tahun 2026. Prediksi tersebut didasarkan pada permintaan yang tetap solid dan terukur.
“Saat ini terdapat permintaan kuat dari bank sentral global dan ETF emas termasuk di China,” ucap Krasnozhenov. “Peran Hong Kong sebagai pusat perdagangan emas dunia semakin diperkuat.”
Peluncuran sistem kliring emas terpusat pada Juli 2026 ikut menopang peran Hong Kong sebagai hub pembayaran internasional. Permintaan emas dari individu juga meningkat terutama di India dan China. Harga emas dunia semakin mendapat dukungan ganda dari faktor geopolitik dan teknikal.









