Kisah Nabi Nuh sebagai rasul pertama yang diutus Allah menjadi bagian penting dalam kajian Islam tentang sejarah para nabi. Perjalanan dakwah beliau sarat pelajaran tentang bagaimana peringatan disampaikan kepada kaum yang telah jauh dari jalan kebenaran.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman mengenai pengutusan tersebut:
اِنَّاۤ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖۤ اَنْ اَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.” (QS. Nuh 71: Ayat 1).
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaum yang saat itu telah tenggelam dalam kesyirikan. Tugas beliau adalah menyampaikan peringatan penuh kasih sayang sebelum azab yang pedih benar-benar datang menimpa mereka.
Dakwah yang dijalankan Nabi Nuh dimulai dengan mengajak kaumnya kembali kepada tauhid serta mengingatkan tentang kehidupan akhirat. Pesan ini menjadi fondasi utama sebelum membahas persoalan syariat lain yang lebih rinci.
Pengutusan seorang rasul sejatinya mencerminkan bagaimana Allah selalu mendahulukan rahmat sebelum menjatuhkan hukuman kepada hamba-Nya. Peringatan diberikan terlebih dahulu agar manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Setiap celah waktu yang tersisa sebelum azab tiba semestinya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk bertaubat. Kesempatan semacam ini tidak datang berulang kali, sehingga penundaan hanya akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari.
Kedudukan istimewa Nabi Nuh sebagai rasul pertama juga disinggung dalam sebuah hadis tentang peristiwa hari kiamat. Dari Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Manusia datang kepada Nuh lalu berkata, ‘Engkau adalah rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi…'” (HR. al-Bukhari no. 3340 dan Muslim no. 194)
Hadis tersebut menegaskan posisi Nabi Nuh dalam rangkaian sejarah kenabian sebagai sosok yang membuka jalan risalah bagi umat manusia. Kelak, kedudukan ini pula yang membuat namanya disebut pertama kali dalam peristiwa besar permohonan syafaat di hari kiamat.
Kisah pengutusan Nabi Nuh mengajarkan bahwa setiap peringatan dari Allah hadir sebagai bentuk kasih sayang, bukan semata ancaman. Merenungi perjalanan dakwah beliau bisa menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk senantiasa bersegera memperbaiki diri sebelum waktu benar-benar habis.









