Penolakan terhadap kebenaran adalah pola lama yang terus berulang sepanjang sejarah manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mulk ayat 18:
وَلَـقَدْ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَا نَ نَكِيْرِ
“Dan sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mendustakan (para rasul-Nya). Maka betapa hebatnya kemurkaan-Ku!”
Ayat ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin bagi setiap generasi yang hidup sesudahnya. Allah menyebut kisah umat terdahulu bukan untuk nostalgia, tetapi sebagai peringatan keras yang masih sangat relevan hingga hari ini.
Kaum Nabi Nuh, ‘Ad, Tsamud, hingga kaum Nabi Luth semuanya pernah menerima seruan kebenaran dari para utusan Allah. Namun mereka memilih jalan yang sama: menolak, mendustakan, bahkan memusuhi para rasul yang justru hadir demi keselamatan mereka.
Akibat dari penolakan itu bukan ancaman kosong, melainkan kenyataan yang tercatat dalam sejarah peradaban. Azab datang setelah peringatan disampaikan berulang kali secara jelas, dan tidak ada satu pun dari mereka yang mampu menghindar ketika hukuman Allah benar-benar turun.
Pola ini menunjukkan bahwa kesombongan dan keangkuhan adalah akar dari segala penolakan terhadap kebenaran. Manusia yang merasa cukup dengan akalnya sendiri cenderung menutup mata terhadap petunjuk ilahi yang sejatinya menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Yang lebih mengkhawatirkan, azab tidak hanya menimpa mereka yang secara aktif menolak. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran dan tidak mengubahnya, maka hampir saja Allah menimpakan azab kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud no. 4338, Tirmidzi no. 2168 – hasan shahih)
Hadis ini menegaskan bahwa diam di hadapan kemungkaran sama berbahayanya dengan pelaku kemungkaran itu sendiri. Sikap apatis terhadap kebenaran yang dilanggar adalah bentuk lain dari penolakan, meski tidak diucapkan dengan lisan.
Maka tanggung jawab seorang mukmin bukan hanya menjaga dirinya sendiri dari kesesatan. Ia juga memikul kewajiban moral untuk menegakkan kebenaran di lingkungan sekitarnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Kisah umat terdahulu sengaja Allah abadikan dalam Al-Qur’an agar manusia tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. Setiap lembar sejarah kehancuran mereka adalah pelajaran gratis yang Allah sediakan bagi siapa saja yang mau berpikir dan mengambil ibrah.
Orang beriman yang cerdas tidak menunggu azab datang baru kemudian tersadar. Ia membaca tanda-tanda, merenungkan firman Allah, dan segera berbenah sebelum pintu taubat tertutup dan penyesalan tidak lagi berguna.









