BERTUAHPOS – Tingkat kerentanan terhadap kekerasan seksual di lingkungan pesantren terbilang rendah, namun masih berpotensi terjadi.
Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang dirilis oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bertajuk; Pesantren Ramah Anak.
Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Dr. Didin Syafruddin, dalam sambutannya menegaskan pentingnya penelitian berbasis data untuk mendukung transformasi kelembagaan pesantren.
Ia menyampaikan bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga berperan besar dalam membentuk karakter dan melindungi tumbuh kembang anak.
“Pesantren harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang bagi santri. Perlindungan terhadap anak merupakan bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai Islam,” ujar Didin.
Plh. Direktur Pesantren Kemenag sekaligus Ketua Satgas PRA, Yusi Damayanti, menegaskan bahwa perlindungan anak tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Ia menyoroti pentingnya sinergi antara prinsip perlindungan anak dengan tata kelola pesantren berbasis kitab kuning.
Menurutnya, kolaborasi antara akademisi dan pesantren menjadi kunci dalam menciptakan kebijakan berbasis bukti yang sesuai konteks dan menjawab tantangan zaman.
“Pesantren yang terbuka terhadap pendekatan ilmiah adalah modal penting dalam membangun lingkungan yang ramah anak,” ucap Yusi.
Riset ini digawangi oleh Dr. Windy Triana dan Dr. Haula Noor dari PPIM UIN Jakarta, dengan cakupan 90 kabupaten/kota di 34 provinsi.
Sebanyak 1.738 responden berpartisipasi dalam survei kuantitatif, sementara 170 informan terlibat dalam penelitian kualitatif.
Mengacu pada prinsip do no harm dan etika penelitian, riset ini berhasil menggambarkan kondisi nyata perlindungan anak di pesantren, termasuk tantangan, potensi, dan praktik baik yang berkembang.
Temuan penting dari penelitian ini adalah masih perlunya penguatan pemahaman isu kekerasan seksual dan kesehatan reproduksi di kalangan santri, pengasuh, dan pengelola pesantren.
Peneliti juga merekomendasikan optimalisasi pengawasan ruang santri putra dan putri, termasuk melalui penataan ulang tata ruang, penempatan CCTV secara strategis, dan peningkatan fasilitas asrama.
Selain aspek fisik, riset juga menyoroti pentingnya fasilitas penyaluran emosi dan kreativitas bagi santri, seperti kegiatan seni dan olahraga. Fasilitas ini terbukti mendukung ketahanan psikologis santri dan mengurangi potensi perilaku destruktif.
Pesantren yang terbuka terhadap pihak luar dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan juga dinilai sebagai indikator kemajuan. Keterbukaan ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pengasuhan yang sehat dan kolaboratif.
Sesi tanya jawab dalam diseminasi berlangsung interaktif. Peserta menyampaikan apresiasi atas hasil riset yang dinilai aplikatif dan reflektif.
Banyak perwakilan pesantren menyatakan kesiapan untuk mengadopsi rekomendasi yang disampaikan demi perbaikan sistem pengasuhan dan tata kelola kelembagaan.
PPIM UIN Jakarta berharap hasil riset ini menjadi pijakan penting dalam penyusunan kebijakan nasional, pengembangan modul pelatihan, serta kurikulum pesantren yang lebih adaptif dan ramah anak.
Program Pesantren Ramah Anak bukan sekadar slogan, tetapi langkah konkret menuju pendidikan Islam yang lebih aman, adil, dan berperadaban.***









