Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا امْرَاَ تَ فِرْعَوْنَ ۘ اِذْ قَا لَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَـنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 11)
Perumpamaan bagi orang beriman, Allah menampilkan sosok Asiyah sebagai teladan bahwa keimanan tidak bergantung pada lingkungan atau pasangan.
Istri Fir‘aun yang zalim meski hidup bersama penguasa paling kejam, ia tetap beriman kepada Allah dan menolak kekufuran suaminya. Ia tidak meminta keselamatan dunia, tetapi rumah di sisi Allah (surga), keselamatan dari kezaliman dan dijauhkan dari lingkungan buruk.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik wanita (di dunia) adalah Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir‘aun.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjabaran
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan teladan keimanan melalui firman-Nya dalam QS. At-Tahrim ayat 11 yang mengangkat sosok Asiyah, istri Fir’aun. Ayat ini menjadi fondasi penting dalam memahami bahwa iman bersifat independen dan tidak ditentukan oleh lingkungan sosial maupun relasi keluarga.
Allah menghadirkan Asiyah sebagai perumpamaan bagi orang-orang beriman untuk menunjukkan bahwa keteguhan iman dapat tumbuh bahkan di tengah kekuasaan tiran. Ia hidup dalam istana Fir’aun, simbol kekufuran dan kezaliman, namun hatinya tetap terikat kuat kepada tauhid.
Asiyah menolak tunduk pada kesyirikan yang dipaksakan oleh suaminya, Fir’aun, yang mengklaim dirinya sebagai tuhan. Penolakan ini bukan sekadar sikap pasif, tetapi bentuk perlawanan spiritual yang berisiko tinggi terhadap keselamatan dirinya.
Doa yang dipanjatkan Asiyah menjadi inti dari kekuatan spiritualnya, yakni permohonan kepada Allah agar dibangunkan rumah di sisi-Nya di surga. Ia memprioritaskan kehidupan akhirat dibanding keselamatan dunia, menunjukkan orientasi iman yang lurus dan mendalam.
Permintaan Asiyah untuk diselamatkan dari Fir’aun dan perbuatannya mencerminkan kesadaran akan bahaya lingkungan yang merusak akidah. Ia tidak hanya ingin selamat secara fisik, tetapi juga terbebas dari pengaruh sistem kezaliman yang menyesatkan.
Lebih jauh, Asiyah juga memohon perlindungan dari kaum yang zalim, mempertegas bahwa komunitas yang buruk dapat menggerus nilai keimanan seseorang. Ini menjadi peringatan bahwa memilih lingkungan adalah bagian dari menjaga iman.
Kisah Asiyah menunjukkan bahwa keimanan bukan hasil warisan atau tekanan sosial, melainkan pilihan sadar yang lahir dari keyakinan mendalam. Dalam konteks ini, Islam menempatkan tanggung jawab iman sepenuhnya pada individu.
Rasulullah ﷺ melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim menyebut Asiyah sebagai salah satu wanita terbaik di dunia bersama Maryam binti Imran. Pengakuan ini menguatkan posisi Asiyah sebagai figur teladan lintas zaman.
Keteladanan Asiyah relevan dalam kehidupan modern, terutama ketika seseorang menghadapi tekanan sosial, keluarga, atau sistem yang bertentangan dengan nilai Islam. Ia membuktikan bahwa iman yang kokoh mampu bertahan dalam kondisi paling ekstrem sekalipun.
Dengan demikian, kisah Asiyah dalam QS At-Tahrim ayat 11 bukan sekadar narasi sejarah, melainkan pedoman hidup bagi setiap muslim. Ia mengajarkan bahwa tujuan utama adalah kedekatan dengan Allah, dan keberanian untuk mempertahankan iman adalah jalan menuju keselamatan hakiki.[]









