Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنْ تَتُوْبَاۤ اِلَى اللّٰهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوْبُكُمَا ۚ وَاِ نْ تَظٰهَرَا عَلَيْهِ فَاِ نَّ اللّٰهَ هُوَ مَوْلٰٮهُ وَجِبْرِ يْلُ وَصَا لِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ بَعْدَ ذٰلِكَ ظَهِيْرٌ
“Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebenaran); dan jika kamu berdua saling bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sungguh, Allah menjadi pelindungnya dan (juga) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya.” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 4)
Ayat ini adalah teguran lembut namun tegas dari Allah kepada dua istri Nabi. Mereka diminta bertaubat, karena telah melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan Rasulullah ﷺ.*
Jangan meremehkan dosa kecil, karena bisa berdampak besar. Segera kembali kepada Allah (taubat) tanpa menunda. Jangan ikut-ikutan dalam kesalahan, meski bersama orang dekat. Hormati pemimpin dan orang yang membawa kebenaran, apalagi Rasulullah ﷺ.*
Keadilan Allah berlaku untuk semua, tanpa pandang kedudukan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku ingin bertanya kepada Umar bin Khattab tentang dua wanita dari istri Nabi yang dimaksud dalam ayat ini. Maka Umar berkata: “Mereka adalah Aisyah dan Hafshah binti Umar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjabaran
Allah SWT menurunkan banyak ayat sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Salah satunya adalah QS At-Tahrim ayat 4 yang berisi teguran lembut namun tegas kepada dua istri Rasulullah ﷺ agar segera kembali kepada kebenaran dan bertaubat kepada Allah.
Dalam ayat tersebut, Allah berfirman bahwa jika keduanya bertaubat, maka itu lebih baik karena hati mereka telah condong untuk menerima kebenaran. Ini menunjukkan bahwa meski seseorang melakukan kesalahan, pintu taubat selalu terbuka selama ia mau kembali dengan tulus.
Ayat ini juga memberi pelajaran besar bahwa kedekatan dengan orang saleh tidak otomatis menjamin seseorang bebas dari kekeliruan. Dua istri Nabi yang mulia pun tetap ditegur ketika melakukan sesuatu yang membuat Rasulullah ﷺ tidak nyaman.
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia bisa salah, tetapi yang terbaik adalah mereka yang segera memperbaiki diri. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh gengsi mengakui kesalahan dan tidak boleh menunda taubat meski dosanya dianggap kecil.
Sering kali manusia meremehkan dosa kecil karena merasa tidak berdampak besar. Padahal dosa kecil yang terus diulang tanpa penyesalan dapat mengeraskan hati dan menjauhkan seseorang dari cahaya hidayah.
QS At-Tahrim ayat 4 juga mengingatkan agar jangan ikut-ikutan dalam kesalahan hanya karena bersama orang dekat. Loyalitas kepada teman, keluarga, atau kelompok tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah dan penghormatan kepada kebenaran.
Ketika seseorang mendukung kebatilan, maka ia ikut memikul dampaknya. Sebaliknya, orang yang berdiri di pihak kebenaran akan mendapat pertolongan Allah, sebagaimana dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia adalah pelindung Rasul-Nya.
Allah juga menyebut Jibril, orang-orang mukmin yang saleh, dan para malaikat sebagai penolong Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang membela agama dan kebenaran tidak pernah berjalan sendirian.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan bahwa dua wanita yang dimaksud dalam ayat ini adalah Aisyah dan Hafshah binti Umar. Riwayat ini terdapat dalam hadits sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.
Pelajaran penting dari ayat ini adalah keadilan Allah berlaku kepada semua manusia tanpa memandang kedudukan. Siapa pun yang salah harus bertaubat, dan siapa pun yang taat akan dimuliakan oleh Allah.
Karena itu, tafsir QS At-Tahrim ayat 4 mengajarkan kita untuk menjaga hati, menjauhi dosa kecil, tidak mendukung kesalahan, serta bersegera kembali kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh. Inilah jalan keselamatan bagi setiap Muslim di dunia dan akhirat.***









