BERTUAHPOS.COM — Tasbih dan dzikir adalah dua amalan yang kerap dianggap sepele, padahal keduanya menyimpan kedudukan luar biasa dalam Islam. Al-Qur’an bahkan mengabadikan kisah orang-orang yang binasa justru karena melalaikan tasbih kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
قَا لَ اَوْسَطُهُمْ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُوْنَ
“Berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka, Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (kepada Tuhanmu).” (QS. Al-Qalam 68: Ayat 28)
Ayat ini turun dalam konteks kisah para pemilik kebun yang angkuh, mereka bersepakat memanen hasil kebun tanpa menyisihkan hak orang-orang miskin. Akibat keangkuhan itu, Allah menghancurkan kebun mereka dalam semalam, dan penyesalan pun datang terlambat.
Di tengah kepanikan itu, tampillah satu sosok yang selama ini bersuara sendirian—orang yang paling bijak di antara mereka. Ia bukan menghakimi, melainkan mengingatkan dengan pertanyaan yang menggugah: mengapa kalian tidak bertasbih?
Penggalan kisah ini mengajarkan bahwa nasihat tidak pernah sia-sia, meski berkali-kali diabaikan. Amar ma’ruf adalah kewajiban yang tidak gugur hanya karena tidak didengar, sebab tanggung jawab seorang mukmin bukan pada hasil, melainkan pada keberanian menyampaikan kebenaran.
Lebih dalam dari sekadar nasihat, ayat ini menunjukkan bahwa bertasbih adalah penjaga hati dari keserakahan dan keangkuhan. Orang yang rajin berdzikir akan lebih mudah bersyukur, lebih sadar bahwa setiap nikmat—termasuk kebun yang subur, rezeki yang lapang, dan kesehatan yang prima—sepenuhnya berasal dari Allah, bukan semata hasil kerja keras.
Sebaliknya, hati yang kering dari dzikir cenderung keras dan mudah terperangkap cinta dunia. Ia mulai merasa bahwa segalanya adalah miliknya sendiri, sehingga pelit berbagi, enggan bersyukur, dan lambat bertobat ketika ujian datang.
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar tidak meremehkan amalan lisan yang ringan ini. Beliau bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘Azim.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Dua kalimat itu—Subhanallahi wa bihamdihi dan Subhanallahil ‘Azim—tidak membutuhkan waktu lama, tidak memerlukan tenaga besar, dan bisa diucapkan di mana saja. Namun bobotnya di sisi Allah begitu besar hingga Rasulullah SAW secara khusus menyebutnya sebagai amalan yang dicintai Ar-Rahman.
Maka, jadikan tasbih sebagai napas harian, bukan hiasan lisan semata. Ketika hati terbiasa bertasbih, ia akan tumbuh menjadi hati yang peka terhadap nikmat, berani menyuarakan kebaikan, dan tidak mudah terlena oleh gemerlap dunia yang fana.









