Sikap orang kafir yang menantang dan mengejek ancaman Allah bukan fenomena baru, melainkan pola lama yang terus berulang sejak zaman para nabi. Allah SWT merekamnya secara langsung dalam QS. Al-Mulk ayat 25: “Dan mereka berkata, ‘Kapan datangnya ancaman itu jika kamu orang yang benar?’”
Pertanyaan itu bukan ungkapan rasa ingin tahu yang tulus, melainkan bentuk penghinaan dan pendustaan terhadap seruan para rasul. Mereka meminta azab disegerakan bukan karena siap menerimanya, tetapi karena tidak percaya bahwa ancaman itu nyata adanya.
Keangkuhan semacam ini lahir dari kesombongan akal yang menolak tunduk kepada perkara gaib yang berada di luar jangkauan pikiran manusia. Mereka mengira bahwa sesuatu yang belum terjadi di depan mata adalah sesuatu yang tidak akan pernah terjadi sama sekali.
Padahal hari kiamat, hari kebangkitan, dan seluruh bentuk pembalasan Allah adalah kepastian yang tidak bergantung pada keyakinan siapapun. Diyakini atau diingkari, semua itu tetap akan datang tepat pada waktu yang telah Allah tetapkan sejak azali.
Rasulullah SAW tidak menjawab pertanyaan “kapan kiamat terjadi” dengan menyebut tanggal atau tahun, melainkan dengan menunjukkan tandanya. Dari Abu Hurairah, beliau bersabda: “Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.” (HR. Bukhari no. 6496)
Jawaban Nabi Muhammad SAW ini, mengandung hikmah yang dalam karena mengalihkan perhatian dari pertanyaan yang tidak produktif menuju tindakan yang konkret dan bermakna. Daripada sibuk menebak waktunya, seorang mukmin seharusnya sibuk memperbaiki diri dan memelihara amanah dalam setiap aspek kehidupannya.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berspekulasi tentang hal-hal gaib yang hanya Allah yang mengetahuinya. Sebaliknya, Islam mendorong sikap tawadhu terhadap ilmu Allah dan kesadaran bahwa keterbatasan pengetahuan manusia adalah alasan kuat untuk semakin bergantung kepada-Nya.
Ejekan orang-orang yang meragukan ancaman Allah seharusnya menjadi cermin bagi setiap mukmin untuk tidak ikut terseret dalam pola pikir yang sama. Menunda taubat, meremehkan ibadah, atau menganggap enteng peringatan agama adalah bentuk keangkuhan yang lebih halus namun sama berbahayanya.
Setiap peringatan tentang akhirat yang disampaikan Al-Qur’an dan hadis sejatinya adalah hadiah, bukan ancaman semata. Allah memberikan informasi tentang konsekuensi perbuatan agar manusia punya cukup waktu untuk berbenah sebelum pintu taubat tertutup oleh kematian yang datang tanpa permisi.
Maka respons yang paling tepat terhadap ayat ini bukan rasa takut yang melumpuhkan, melainkan kesadaran yang menggerakkan. Segera perbaiki hubungan dengan Allah, tunaikan amanah, dan jadikan setiap peringatan tentang hari akhir sebagai bahan bakar untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.***









