Firman Allah SWT dalam QS. Al-Mulk ayat 28, adalah tamparan keras bagi siapapun yang mengira keselamatan bisa diraih tanpa iman. Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan:
قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَهْلَـكَنِيَ اللّٰهُ وَمَنْ مَّعِيَ اَوْ رَحِمَنَا ۙ فَمَنْ يُّجِيْرُ الْكٰفِرِ يْنَ مِنْ عَذَا بٍ اَلِيْمٍ
“Katakanlah (Muhammad), Tahukah kamu jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), lalu siapa yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?”
Ayat ini turun berkaitan dengan sikap orang-orang kafir yang berharap Nabi SAW dan kaum mukminin binasa agar dakwah Islam berhenti selamanya. Mereka mengira bahwa dengan lenyapnya Rasulullah ﷺ, mereka akan terbebas dari tuntutan untuk beriman dan bertanggung jawab atas penolakan mereka.
Allah membungkam harapan itu dengan argumen yang tidak terbantahkan: apakah Nabi SAW wafat atau masih hidup, azab tetap menanti mereka yang memilih jalan kekafiran. Tidak ada satu pun manusia, tokoh, atau kekuatan duniawi yang mampu menjadi tameng antara seseorang dan konsekuensi dari pilihannya sendiri di hadapan Allah.
Dakwah Islam tidak bergantung pada satu individu karena Allah sendiri yang menjadi penjaganya sepanjang masa. Sejarah membuktikan bahwa setelah wafatnya Rasulullah SAW, risalah Islam justru semakin meluas ke seluruh penjuru bumi, memperlihatkan bahwa ketetapan Allah tidak pernah bisa dikalahkan oleh rencana siapapun.
Pelajaran penting dari ayat ini adalah bahwa seorang mukmin tidak sepatutnya mendoakan keburukan atau kebinasaan bagi orang lain, meskipun mereka berlaku zalim. Semua urusan kembali kepada ketetapan Allah, dan tugas seorang hamba hanyalah menyampaikan kebenaran serta memperbaiki dirinya sendiri.
Rasulullah SAW mengarahkan perhatian umatnya pada hal yang jauh lebih produktif melalui sabdanya: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. al-Bukhari No. 71 dan Muslim No. 1037). Pemahaman agama yang mendalam adalah tanda bahwa Allah sedang melimpahkan rahmat-Nya kepada seorang hamba.
Maka fokus seorang mukmin seharusnya bukan mengurusi nasib orang lain, melainkan terus memperdalam ilmu dan memperkuat iman sebelum datangnya kematian yang tidak pernah menunggu kesiapan siapapun. Setiap hari yang berlalu tanpa penambahan bekal akhirat adalah kerugian nyata yang tidak bisa dikembalikan.
Ayat ini juga mengandung penghiburan bagi setiap pendakwah yang merasa lelah karena seruan kebenaran tampak diabaikan. Tugas menyampaikan sudah cukup sebagai bukti tanggung jawab, sementara hidayah adalah hak prerogatif Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Orang beriman sejati adalah mereka yang menggantungkan harapannya hanya kepada rahmat Allah, bukan kepada kondisi orang lain atau situasi di sekitarnya. Rasa takut terhadap azab dan kerinduan terhadap ampunan Allah itulah yang mendorong seorang mukmin untuk terus berbenah tanpa pernah berhenti.
Pada akhirnya, tidak ada perlindungan dari azab Allah kecuali keimanan yang tulus dan amal yang terus diperbaiki hingga nafas terakhir. Jadikan ayat ini bukan sekadar bacaan, melainkan cermin yang setiap hari mengingatkan bahwa waktu terus berjalan dan kesempatan untuk bertaubat tidak akan selamanya terbuka.***









