BERTUAHPOS.COM — Allah SWT menurunkan kisah pemilik kebun dalam Al-Qalam sebagai peringatan keras tentang bahaya kesombongan dalam merencanakan masa depan tanpa menyebut nama-Nya. Kisah ini bukan hanya relevan bagi orang-orang musyrik Mekah di zaman Nabi, tetapi juga menjadi cermin tajam bagi setiap Muslim yang hidup di era modern ini.
Allah berfirman:
اِنَّا بَلَوْنٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَاۤ اَصْحٰبَ الْجَـنَّةِ ۚ اِذْ اَقْسَمُوْا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِيْنَ وَلَا يَسْتَثْنُوْنَ
“Sungguh, Kami telah menguji mereka (orang musyrik Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik (hasil)nya pada pagi hari, tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, Insya Allah).” (QS. Al-Qalam 68: Ayat 17-18)
Para pemilik kebun itu berencana memanen hasil kebun mereka sendiri tanpa menyisihkan hak orang-orang miskin yang selama ini diberikan oleh ayah mereka. Mereka bersumpah dengan penuh keyakinan, seolah-olah hasil panen itu sudah pasti ada di tangan mereka keesokan harinya.
Namun Allah memiliki kehendak yang berbeda. Kebun itu hangus terbakar di malam hari sebelum fajar tiba, dan rencana yang mereka susun rapi luluh lantak dalam sekejap.
Kisah ini mengajarkan dua pelajaran sekaligus: bahwa ucapan “Insya Allah” bukan sekadar kebiasaan lisan, melainkan pengakuan tulus atas kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Allah. Seorang mukmin yang benar-benar memahami tawakal tidak akan pernah merasa paling berhak menentukan hasil dari sebuah usaha.
Islam sama sekali tidak melarang seorang Muslim membuat rencana, menetapkan target, bahkan bermimpi besar. Yang dilarang adalah ketika rencana itu disusun dengan kesombongan seolah hasilnya sudah pasti, tanpa sedikitpun menyertakan Allah dalam setiap langkahnya.
Dimensi lain yang tak kalah penting dari kisah ini adalah soal hak orang miskin dalam harta. Ketika para pemilik kebun berencana menahan hak fakir miskin demi kepentingan pribadi, keberkahan pun dicabut bukan hanya dari kebun mereka, tetapi dari seluruh rencana yang mereka bangun.
Penegasan serupa datang dari hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, di mana Rasulullah ﷺ menceritakan kisah Nabi Sulaiman. “Nabi Sulaiman berkata: ‘Malam ini aku akan mendatangi seratus wanita, masing-masing akan melahirkan seorang pejuang di jalan Allah.’ Maka malaikat berkata: ‘Ucapkanlah Insya Allah.’ Namun beliau tidak mengucapkannya… maka tidak ada yang melahirkan kecuali seorang wanita dan melahirkan setengah manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini semakin memperkuat pesan bahwa bahkan seorang nabi pun tidak luput dari konsekuensi meninggalkan ucapan Insya Allah. Betapa lagi manusia biasa yang jauh dari derajat kenabian.
Maka sejatinya, Insya Allah adalah ekspresi iman yang paling jujur, sebuah kalimat yang menempatkan manusia pada posisinya yang sesungguhnya: hanya bisa berusaha, sementara Allah-lah yang memegang seluruh keputusan. Jadikan kalimat itu bukan sekadar tradisi lisan, tetapi keyakinan yang mengakar dalam setiap rencana dan langkah hidup seorang Muslim.









