Nikmat Allah mengalir tanpa henti kepada setiap manusia, dari tarikan napas pertama di pagi hari hingga tibanya malam yang membalut tubuh dalam istirahat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 13:
فَبِاَ يِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat tersebut bukan sekadar pertanyaan retoris, melainkan sebuah guncangan kesadaran yang Allah ulang sebanyak 31 kali dalam satu surah. Pengulangan itu bukan kebetulan, melainkan cara Allah menegaskan betapa manusia begitu mudah melupakan apa yang telah diterima.
Udara yang dihirup setiap detik tidak pernah meminta bayaran, begitu pula detak jantung yang bergerak tanpa kita sadari. Kesehatan tubuh, kejernihan pikiran, dan keselamatan dalam perjalanan adalah deretan anugerah yang kerap dianggap biasa karena hadir begitu konsisten.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” Peringatan ini relevan di setiap zaman, termasuk hari ini ketika sibuk menjadi alasan untuk lalai bersyukur.
Manusia cenderung baru menyadari nilai sesuatu setelah kehilangan. Kesehatan baru terasa berharga saat tubuh rebah sakit, dan waktu baru terasa singkat saat kesempatan telah berlalu tanpa dimanfaatkan.
Pendustaan nikmat bukan selalu berarti pengingkaran lisan, bisa juga berupa kelalaian hati yang tidak mengakui bahwa semua kebaikan berasal dari Allah. Ketika rezeki datang lalu langsung diklaim sebagai hasil kerja keras semata, di sanalah benih kufur nikmat mulai tumbuh.
Allah tidak berhenti memberi meskipun hamba-Nya kerap berpaling. Inilah wujud nyata dari rahmat-Nya yang melampaui segala logika timbal balik manusia.
Bumi yang terhampar luas, laut yang menyimpan keberlimpahan, dan langit yang menjaga bumi dari benturan benda-benda angkasa adalah bukti nyata kasih sayang Allah yang bekerja di luar kesadaran manusia. Semua itu berjalan tanpa henti sejak alam semesta diciptakan.
Hidayah menjadi nikmat yang paling agung dan sering terlupakan karena tidak bisa diraba maupun dilihat. Seseorang yang diberi petunjuk untuk mengenal Allah dan menjalani hidup sesuai tuntunan-Nya sesungguhnya telah menerima anugerah terbesar yang melampaui harta maupun kedudukan.
Bersyukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah di ujung lidah, tetapi juga menggunakan setiap nikmat sesuai tujuan penciptaannya. Mata yang sehat dipakai untuk membaca ayat-ayat Allah, tangan yang kuat digerakkan untuk membantu sesama—itulah syukur yang sesungguhnya.
Kajian atas Surah Ar-Rahman mengajak setiap Muslim untuk berhenti sejenak dan menghitung apa yang sudah diterima, bukan apa yang belum didapat. Pergeseran sudut pandang dari kekurangan menuju kelimpahan ini adalah kunci ketenangan jiwa yang dicari banyak orang.
Doa yang diajarkan ulama salaf setiap bangun pagi—”Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur”—adalah pengakuan tulus bahwa kembalinya kesadaran setelah tidur pun adalah nikmat Allah yang wajib disyukuri. Tidak ada satu pun momen dalam hidup yang luput dari anugerah-Nya, dan tidak ada alasan bagi kita untuk terus mendustakan semua itu.









